sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dhadi cubo "memayu hayuning bawono"
.....:::::Di blog MU'ALIM banyak trik yang sangat menarik dan gampang untuk di pelajari, apabila ada kesulitan tanyakan saja pada MU'ALIM . Terima kasih::::....


.

MU'ALIM LOVE WINDA FOREVER
Blogger newbie yang masih belajar tentang CSS dan HTML. Kadang suka ngutak ngatik HTML sendiri. Walau gagal, tetep coba dan gak mau menyerah sampai bisa.
Blogger yang satu ini bukan master, jadi jangan nanya yang macem sama dia.
Avenged Sevenfold, Linkin Park, Muse, Big Bang, Chris Brown dan Suigetsu Hozuki jadi favoritnya.
Jangan lupa Add Facebook Blogger ini, Follow Twitternya juga, dan ini :Deezclan Komunitas orang kreatif.
Tampilkan postingan dengan label al-kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2013

Sejarah Jihad di Bosnia: Sepenggal kisah kekejian Salibis, bermain bola dengan kepala orang Muslim

0 komentar
Apa yang disebut Perang Salib masih dilancarkan hingga saat ini terhadap kaum Muslimin. Sejarah perang Salib Serbia terhadap kaum Muslimin Bosnia-Hezergovina pada tahun 1992 menyisakan kenangan pedih yang tak akan pernah sembuh hingga pembalasan setimpal dilakukan terhadap para Salibis yang kini masih tertawa di atas darah-darah kaum Muslimin.

Berikut ini adalah sepenggal kisah dari Sejarah Jihad di Bosnia, sebuah pengorbanan keimanan di bawah kekejaman Perang Salib yang menunjukkan kejinya kaum kafir terhadap kaum Muslimin pada saat itu dan kini berlanjut di negara-negara kaum Muslimin setelah beranjak dari Bosnia.

Pernahkan kita berpikir adakah manusia yang bermain bola dengan kepala Manusia? Jika ada, manusia seperti apa itu? Kepala siapakah? Kepala orang Muslim!

Hal itu benar-benar nyata terjadi dalam sejarah Jihad di Bosnia. Jika sekarang ada salibis yang melakukan itu kembali, maka janganlah heran. Itulah salah satu kegilaan orang kafir.

oOo

Kekejian Pemimpin Serbia: Bermain bola dengan kepala orang Islam dan Merusak kehormatan Muslimah

Dua hari sebelum Idul Adha, kota Futsa (salah satu kota di Bosnia yang sekarang mungkin sudah tidak ada -red) berubah menjadi kawasan yang gelap gulita oleh asap pkeat, setelah dibakar milisi Serbia. Mereka menggali lubang besar, dan mengubur penduduk Futsa hidup-hidup!

Wakil perdana Menteri Bosnia-Hezergovina menyatakan bahwa orang-orang Serbia merasa sangat senang melihat ceceran darah orang Islam. Mereka telah gila. Bahkan mungkin mereka bukanlah manusia. Bagaimana mungkin manusia sanggup melihat kepala-kepala terpenggal tergeletakkan di jalanan. Bagaimana mungkin manusia tega, bahkan merasa gembira, menyaksikan rekan-rekannya bermain sepak bola dengan menggunakan kepala sesama manusia. Inilah yang dilakukan dua orang pejabat tinggi Serbia, yaitu Menteri Penerangan (Ostatis) dan seorang anggota parlemen Serbia (Maksimoyibtis). Mereka menggorok seorang Muslim, memenggal kepalanya, lalu bermain bola dengan kepala itu di jalan raya.

Wakil Perdana Menteri Bosnia-Hezergovina itu menuturkan bahwa Syaikh Sarnah, Imam Masjid di kota Futsa dipaksa untuk menyaksikan lima anaknya dibantai, sebelum ia sendiri disembelih. Kemudian Salimofatis, sahabat wakil Perdana Menteri sendiri, dicegah untuk memberikan makanan dan obat-obatan kepada ibunya yang sedang sakit, sehingga sang ibu meninggal di depan matanya, sementara di tangannya ada makanan dan obat-obatan. Bahkan ia sendiri akhirnya dibunuh.

Pada kesempatan lain, empat orang pejabat Serbia merusak kehormatan seroang ibu dengan disaksikan oleh dua anak lelakinya, dan setelah itu mereka diterjang peluru.

Orang-orang Serbia menganggap setiap Muslim adalah orang-orang Turki yang menjajah semenanjung Balkan, sehingga mereka semua pantas diusir. Inilah keyakinan yang telah mendarah daging pada kebanyakan orang Serbia. Lewat buku-buku sejarah, mereka menanamkan keyakinan itu kepada anak-anak mereka, dan juga kepada anak-anak kita!

oOo

Mengapa Serbia membantai Kaum Muslimin?

Di sekolah-sekolah dasar di Serbia, diajarkan sebuah syair “Iklil Al Jabal”. Syair itu berbunyi:

Orang-orang islam melewati jalan setan.

Mengotori bumi dan mengisinya dengan kotoran.

Makan kembalilah kesuburan bumi.

Mari kita membersihkannya dari kotoran-kotoran ini.

Mari kita meludah di atas Al-Qur’an.

Agar terbang kepala semua yang kepada agama mereka beriman.

Anjing-anjing pengikut Muhammad.

Hingga dia pergi tanpa perlu dikasihani.

Mereka yang sekarang ini melakukan pembantaian, telah menghapal Syair itu sejak kecil. Pada masa mudanya, mereka kenyang dengan doktrin-doktrin pembantaian yang diajarkan di tempat-tempat peribadatan Serbia. Mereka telah terlanjut menganggap bahwa membunuh orang Islam adalah salah satu kewajiban dari Tuhan. Mereka katakan bahwa itu adalah salah satu tanda setia kepada orang-orang yang telah disiksa Turki-Utsmani. Padahal fakta sejarah mengatakan bahwa orang-orang Bosnia dan sebagian penduduk Serbia justru mendapat tekanan keras dari para pemimpin agama etnik Serbia sebelum Daulah Utsmani membebaskan mereka. Mereka (muslimin bosnia) sejak semula telah memeluk Islam dengan taat dan sukarela, bahkan mereka menjadi pemimpin-pemimpin perang diperbatasan sebelah utara dengan gagah berani.
Perlakuan terhadap ummat Islam Bosnia-Hezergovina tidak saja mereka terima di Serbia, tetapi Kroasia pun turut melengkapi penderitaan mereka. Ketika Kroasia merdeka dari Yugoslavia, Kroasia memberi kewarganegaraan kepada penduduk non-Muslim yang bermukim di sana, sedang penduduk Islam dianggap sebagai warga negara asing. Orang Islam dapat menjadi warga Kroasia asalkan mengaku sebagai orang Kroasia. Dan orang Kroasia yang dimaksud adalah yang seagama dengan mereka. Maka maha benar Allah yang telah berfriman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)

oOo

Demikian dengkinya kaum kafirin terhadap kaum Muslimin, hingga menghasilkan tindakan-tindakan barbar yang benar-benar tak manusiawi. Sejarah membuktikan bahwa mereka lah yang senantiasa memulai peperangan dan membunuhi kaum Muslimin. Kini perang salib dan segala kekejamannya masih berlanjut di tanah-tanah kaum Muslimin. Tak ada pilihan untuk kaum Muslimin, selain MENANG atau MATI SYAHID.

Disalin dari: Buku “Jihad di Bosnia” oleh Muhammad Abdul Mun’im, terbitan Yayasan Al-Mukmin JAKTIM, tahun 1992
Read More

SEJARAH PSHT

0 komentar
Manusia dapat dihancurkan
Manusia dapat dimatikan
akan tetapi manusia tidak dapat dikalahkan
selama manusia itu setia pada hatinya
atau ber-SH pada dirinya sendiri
Falsafah Persaudaraan Setia Hati Terate itu ternyata sampai sekarang tetap bergaung dan berhasil melambungkan PSHT sebagai sebuah organisasi yang berpangkal pada “persaudaraan” yang kekal dan abadi.
Adalah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, lelaki kelahiran Madiun pada tahun 1890. Karena ketekunannya mengabdi pada gurunya, yakni Ki Ngabehi Soerodiwiryo, terakhir ia pun mendapatkan kasih berlebih dan berhasil menguasai hampir seluruh ilmu sang guru hingga ia berhak menyandang predikat pendekar tingkat III dalam tataran ilmu Setia Hati (SH). Itu terjadi di desa Winongo saat bangsa Belanda mencengkeramkan kuku jajahannya di Indonesia.
Sebagai seorang pendekar, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pun berkeinginan luhur untuk mendarmakan ilmu yang dimilikinya kepada orang lain. Untuk kebaikan sesama. Untuk keselamatan sesama. Untuk keselamatan dunia. Tapi jalan yang dirintis ternyata tidak semulus harapannya. Jalan itu berkelok penuh dengan aral rintangan. Terlebih saat itu jaman penjajahan. Ya, sampai Ki Hadjar sendiri terpaksa harus magang menjadi guru pada sekolah dasar di benteng Madiun, sesuai beliau menamatkan bangku sekolahnya. Tidak betah menjadi guru, Ki Hadjar beralih profesi sebagai Leerling Reambate di SS (PJKA/Kereta Api Indonesia saat ini – red) Bondowoso, Panarukan, dan Tapen.
Memasuki tahun 1906 terdorong oleh semangat pemberontakannya terhadap Negara Belanda – karena atasan beliau saat itu banyak yang asli Belanda -, Ki Hadjar keluar lagi dan melamar jadi mantri di pasar Spoor Madiun. Empat bulan berikutnya ia ditempatkan di Mlilir dan berhasil diangkat menjadi Ajund Opsioner pasar Mlilir, Dolopo, Uteran dan Pagotan.
Tapi lagi-lagi Ki Hadjar didera oleh semangat berontakannya. Menginjak tahun 1916 ia beralih profesi lagi dan bekerja di Pabrik gula Rejo Agung Madiun. Disinipun Ki Hadjar hanya betah untuk sementara waktu. Tahun 1917 ia keluar lagi dan bekerja di rumah gadai, hingga beliau bertemu dengan seorang tetua dari Tuban yang kemudian memberi pekerjaan kepadanya di stasion Madiun sebagai pekerja harian.
Dalam catatan acak yang berhasil dihimpun, di tempat barunya ini Ki Hadjar berhasil mendirikan perkumpulan “Harta Jaya” semacam perkumpulan koperasi guna melindungi kaumnya dari tindasan lintah darat. Tidak lama kemudian ketika VSTP (Persatuan Pegawai Kereta Api) lahir, nasib membawanya ke arah keberuntungan dan beliau diangkat menjadi Hoof Komisaris Madiun.
Senada dengan kedudukan yang disandangnya, kehidupannya pun bertambah membaik. Waktunya tidak sesempit seperti dulu-dulu lagi, saat beliau belum mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dalam kesenggangan waktu yang dimiliki, Ki Hadjar berusaha menambah ilmunya dan nyantrik pada Ki Ngabehi Soerodiwiryo.
Data yang cukup bisa dipertanggungjawabkan menyebutkan dalam tahun-tahun inilah Setia Hati (SH) mulai disebut-sebut untuk mengganti nama dari sebuah perkumpulan silat yang semula bernama “Djojo Gendilo Cipto Mulyo”.
Masuk Sarikat Islam.
Memasuki tahun 1922, jiwa pemberontakan Ki Hadjar membara lagi dan beliau bergabung dengan Sarikat Islam (SI), untuk bersama-sama mengusir negara penjajah, malah beliau sendiri sempat ditunjuk sebagai pengurus. Sedangkan di waktu senggang, ia tetap mendarmakan ilmunya dan berhasil mendirikan perguruan silat yang diberi nama SH Pencak Spor Club. Tepatnya di desa Pilangbangau – Kodya Madiun Jawa Timur, kendati tidak berjalan lama karena tercium Belanda dan dibubarkan.
Namun demikian semangat Ki Hadjar bukannya nglokro (melemah), tapi malah semakin berkobar-kobar. Kebenciannya kepada negara penjajah kian hari kian bertambah. Tipu muslihatpun dijalankan. Untuk mengelabuhi Belanda, SH Pencak Sport Club yang dibubarkan Belanda, diam-diam dirintis kembali dengan siasat menghilangkan kata “Pencak” hingga tinggal “SH Sport Club”. Rupanya nasib baik berpihak kepada Ki Hadjar. Muslihat yang dijalankan berhasil, terbukti Belanda membiarkan kegiatannya itu berjalan sampai beliau berhasil melahirkan murid pertamanya yakni, Idris dari Dandang Jati Loceret Nganjuk, lalu Mujini, Jayapana dan masih banyak lagi yang tersebar sampai Kertosono, Jombang, Ngantang, Lamongan, Solo dan Yogyakarta.
Ditangkap Belanda.
Demikianlah, hingga bertambah hari, bulan dan tahun, murid-murid Ki Hadjar pun kian bertambah. Kesempatan ini digunakan oleh Ki Hadjar guna memperkokoh perlawanannya dalam menentang penjajah Belanda. Sayang, pada tahun 1925 Belanda mencium jejaknya dan Ki Hadjar Hardjo Oetomo ditangkap lalu dimasukkan dalam penjara Madiun.
Pupuskah semangat beliau ? Ternyata tidak. Bahkan semakin menggelegak. Dengan diam-diam beliau berusaha membujuk rekan senasib yang ditahan di penjara untuk mengadakan pemberontakan lagi. Sayangnya sebelum berhasil, lagi-lagi Belanda mencium gelagatnya. Untuk tindakan pengamanan, Ki Hadjar pun dipindah ke penjara Cipinang dan seterusnya dipindah di penjara Padang Panjang Sumatera. Ki Hadjar baru bisa menghirup udara kebebasan setelah lima tahun mendekam di penjara dan kembali lagi ke kampung halamannya, yakni Pilangbangau, Madiun.
Selang beberapa bulan, setelah beliau menghirup udara kebebasan dan kembali ke kampung halaman, kegiatan yang sempat macet, mulai digalakan lagi. Dengan tertatih beliau terus memacu semangat dan mengembangkan sayapnya. Memasuki tahun 1942 bertepatan dengan datangnya Jepang ke Indonesia SH Pemuda Sport Club diganti nama menjadi “SH Terate”. Konon nama ini diambil setelah Ki Hadjar mempertimbangkan inisiatif dari salah seorang muridnya Soeratno Soerengpati. Beliau merupakan salah seorang tokoh Indonesia Muda.
Selang enam tahun kemudian yaitu tahun 1948 SH Terate mulai berkembang merambah ke segenap penjuru. Ajaran SH Terate pun mulai dikenal oleh masyarakat luas. Dan jaman kesengsaraanpun sudah berganti. Proklamasi kemerdekaan RI yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta dalam tempo singkat telah membawa perubahan besar dalam segala aspek kehidupan. Termasuk juga didalamnya, kebebasan untuk bertindak dan berpendapat. Atas prakarsa Soetomo Mangku Negoro, Darsono, serta saudara seperguruan lainnya diadakan konferensi di Pilangbangau (di rumah Alm Ki Hadjar Hardjo Oetomo). Dari konferensi itu lahirlah ide-ide yang cukup bagus, yakni SH Terate yang semenjak berdirinya berstatus “Perguruan Pencak Silat” dirubah menjadi organisasi “Persaudaraan Setia Hati Terate”. Selanjutnya Soetomo Mangkudjajo diangkat menjadi ketuanya dan Darsono menjadi wakil ketua.
Tahun 1950, karena Soetomo Mangkudjojo pindah ke Surabaya, maka ketuanya diambil alih oleh Irsad. Pada tahun ini pula Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah seorang tokoh pendiri PSHT, mendapatkan pengakuan dari pemerintah Pusat dan ditetapkan sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan” atas jasa-jasa beliau dalam perjuangan menentang penjajah Belanda.
Read More

Minggu, 30 Juni 2013

Umar bin Khattab Memberi Keadilan Pada Seorang Yahudi

0 komentar


tasbihSejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.
Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.
“Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.
Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.
“Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.
Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.
Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak.Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.
Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.
“Tunggu!” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..” sela si kakek.
“Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur.
“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.
Read More

Ulama Hadits Terkemuka Imam Bukhari

0 komentar


masjiddiAcehImam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari.
Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan.
Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
Sejak usia 10 tahun sampai usia 16 tahun, beliau sudah banyak menghafal buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Saat kecilnya Imam Bukhari merupakan murid dari Syekh Ad-Dakhili yang merupakan ulama hadits termashyur di Bukhara.
Pada usia 16 tahun ia bersama keluarganya mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Dalam belajar dan memperoleh hadits, Imam Bukhari belajar kepada beberapa guru, diantaranya adalah : Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Kemudian bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7.275 hadits.
Menurut pengakuan kakaknya, Rasyid bin Ismail, Bukhari memiliki daya hapal yang tinggi. Dia menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits saat beliau sedang berada di Bagdad. Mereka ingin menguji ketinggian ilmu beliau. 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya sungguh sangat mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar. Wallahu’alam.
Read More

Selasa, 25 Oktober 2011

Mengapa kita Membaca Al-Qur’an

0 komentar

Mengapa kita membaca Al Quran walaupun tidak mengerti sama sekali bahasa arab?
Ini adalah sebuat cerita penuh hikmah.
Seorang Kakek Muslim Amerika hidup di sebuah pertanian di pegunungan bagian timur Kentucky dengan cucu laki2nya. Setiap shubuh sang Kakek selalu bangun awal, duduk di meja dapurnya membaca Al Quran. Cucunya selalu ingin seperti kakeknya, dan meniru perbuatan kakeknya tersebut sebisanya..
Suatu hari sang cucu bertanya, “kek, aku mencoba membaca Al Quran seperti kakek, tapi aku tidak mengerti, kalaupun ada yang aku mengerti aku langsung lupa begitu aku menutup Al Quran. Apa sih manfaat membaca alQuran?”
Sang kakek pun berbalik perlahan, menghentikan kerjanya memasukkan batu bara ke tungku dan menjawab. “Ambillah keranjang batu bara ini, dan pergilah ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air”
Sang cucu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, tapi semua air tumpah sebelum ia berhasil kembali ke rumah. sang kakek  tersenyum dan berkata “kamu harus bergerak lebih cepat mengangkut airnya” dan menyuruh sang cucu tuk kembali ke sungai mengambil air. Sang cucu pun berusaha lari dengan cepat ketika mengantar air, namun tetap saja airnya tumpah.
Sambil kehabisan nafas, ia pun berkata kepada kakeknya  bahwa tidak mungkin mengangkut air dengan keranjang, lalu sang cucu berjalan tuk mengambil ember sebagai ganti keranjang.
Sang kakek berkata, “aku menginginkan sekeranjang air, bukan seember air. kau kurang bekerja keras tuk mengambilnya”, dan si kakek pergi ke pintu tuk melihat si cucu berusaha lagi.
Ketika itu, sang cucu sudah tahu bahwa perbuatannya tidak ada manfaatnya, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa secepat apapun dia lari, air dari keranjang akan tetap tumpah. Dia mengambil air di sungai, lalu berlari cepat ke kakeknya, namun air tetap tumpah sebelum ia sampai ke tempat kakeknya. Maka ia pun berkata, “lihat kek, gak da manfaatnya kan!”
“jadi kamu berpikir perbuatanmu tidak ada manfaatnya?”, sang kakek berkata, “lihatlah keranjangnya”
sang cucu melihat ke keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa keranjangnya telah berubah. Keranjangnya telah berubah dari keranjang batu bara yang kotor menjadi keranjang yang bersih, luar dalam.
“Cu, itu yang terjadi ketika kau membaca Al Quran. Kamu mungkin tidak mengerti atau mengingat apa pun, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan berubah, luar dalam. Dan itu adalah kuasa Allah atas diri kita.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita cucu dan kakek diatas…amin.
Read More

Hilangnya rasa empati terhadap sesama

0 komentar
Beberapa hari yang lalu mungkin kita telah membaca berita atau melihat sebuah video yang begitu tragis menimpa seorang balita di cina, seorang balita yang digilas oleh mobil secara berulang ulang tanpa ada yang memberikan pertolongan, padahal banyak orang yang lalu lalang menyaksikan tragedi tersebut.
Hanya seorang pemulung yang mempunyai hati untuk sekedar meminggirkan si balita yang sudah tidak berdaya tersebut ke pinggir jalan. Baik sebelum kita lanjutkan bagi yang ingin melihat video tragis tersebut bisa klik video dibawah ini :
Saya sebenarnya tidak tega untuk memasang Video tersebut dalam blog ini, tetapi untuk alasan inspirasi rasa kemanusian kita, saya memasangnya juga.
Ketika saya melihat Video ini pertama kali hanya satu kata yang terucap, Astagfirullah… itu manusia apa kucing…? kucing saja miris kita untuk melihatnya.
Dalam hati saya bertanya apakah sudah sedemikian parah rasa kemanusiaan kita sehingga tidak memperdulikan apapun yang terjadi pada orang lain. Padahal dalam agama  juga sudah jelas disebutkan “Bahwa sebaik baik manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat bagi orang lain”.
Semoga video tragis diatas bisa menggugah rasa empati kita terhadap orang lain, semoga di negeri kita masih tetap terjaga rasa empati terhadap sesama…amin.
Semoga bermanfaat.
Read More

Galaxy salah satu bukti kebesaran Allah SWT.

0 komentar

Mari sejenak kita coolingdown, bertafakur memahami kebesaran Allah SWT melalui CiptaanNYA. Salah satunya tentang Galaxy. Galaxy terdiri dari milyaran bintang-bintang. (Bintang merupakan benda langit seperti halnya matahari. Namun bumi dan bulan bukan bintang). Terdapat sekitar tiga trilliun bintang dalam galaksi yang terbesar. Pada umumnya setiap galaksi berisi 200 hingga 300 milyar bintang, sementara galaksi kecil memiliki 100 milyar bintang.
Sekarang cobalah berpikir sejenak: apa artinya satu milyar untukmu? Jika kamu meletakkan dua nol setelah angka satu, akan menjadi 100. Jika kamu menambahkan satu nol lagi maka ia akan menjadi 1000. Tambahkan satu nol lagi, dan kamu memiliki angka 10,000 (sepuluh ribu). Dapatkah kamu berhitung sampai 10.000? Kamu pasti bisa, walau tentunya sangat lama. Tapi, kita masih belum mencapai angka satu milyar. Sekarang kita tambahkan dua nol lagi untuk 10,000. Sekarang menjadi 1,000,000 (satu juta). Kita baru sampai pada sedikit sekali jumlah bintang-bintang dalam sebuah galaksi. Namun, jika kamu menambahkan tiga nol lagi setelah 1,000,000, maka sampailah kita pada angka 1,000,000,000 (satu milyar). Dapatkah kamu berhitung sampai 1,000,000,000? Berhitung sampai satu milyar akan menghabiskan waktu beberapa dekade, satu dekade sama dengan sepuluh tahun.
Kini kita hampir mencapai jumlah bintang-bintang dalam galaksi. Jika kamu letakkan dua nol lagi setelah angka 1,000,000,000, ia akan menjadi 100,000,000,000 (seratus milyar). Ini adalah jumlah bintang didalam galaksi yang paling kecil.
Sudahkan terbayang olehmu mengenai ukuran alam semesta? Jika kamu menghabiskan hidupmu hanya untuk berhitung, tetap saja kamu masih akan gagal untuk menghitung semua bintang di angkasa. Allah, sang Pencipta alam semesta, telah menciptakan ruang angkasa yang tak terbayangkan luasnya olehmu dari sesuatu yang tak ada, dan Allah selalu mengawasi setiap titik di jagat raya ini. Allah mengetahui dan melihat semua yang ada di dalam alam semesta ini, berikut segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Al Qur’an menjelaskan Kekuatan Allah yang tak terbatas ini sebagai berikut:
… Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah maha Kuasa atas segala sesuatu. (Surah Al ‘Imran: 29)
Sekarang ayo kita coba kembali untuk mempelajari galaksi lebih lanjut.
Dalam setiap galaksi terdapat pusat galaksi. Di sekeliling pusat galaksi terdapat lengan yang berputar dengan kecepatan yang luar biasa. Lengan ini terdiri atas bintang-bintang, gas dan awan debu.
Galaksi, dengan pusat galaksi dan lengannya, menjadi benda langit yang terbesar di angkasa. Benda langit ini juga membentuk gugusan galaksi. Didalamnya terdapat ribuan galaksi. Selanjutnya, gugusan-gugusan galaksi tersebut membentuk kumpulan gugusan benda langit. Gugusan-gugusan ini semakin besar dan terus membesar.
Sekarang perhatikan apa saja yang telah kita ketahui:
  • Galaksi terdiri atas milyaran, bahkan trilliunan bintang-bintang;
  • Setiap galaksi memiliki pusat galaksi;
  • Galaksi memiliki lengan yang terdiri atas bintang-bintang, gas dan awan debu yang berputar mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan tinggi.
  • Galaksi-galaksi secara bersama-sama membentuk gugusan galaksi. Bahkan terdapat hampir ribuan galaksi yang membentuk gugusan tersebut. Gugusan-gugusan galaksi juga bersama-sama membentuk gugusan-gugusan lagi.
Ingatlah bahwa sebuah galaksi kecil memiliki 100 milyar bintang-bintang yang besarnya belum tentu sebesar matahari. Selain itu, terdapat planet yang besar dan kecil seperti halnya bumi kita yang berputar mengelilingi bintang-bintang tersebut.
Sekarang coba perhatikanlah. Dapatkah milyaran bintang berkumpul bersama dengan teratur secara kebetulan? Dapatkah bintang-bintang memunculkan sebuah keteraturan yang memungkinkannya bergerak tanpa bertabrakan dengan benda-benda langit lainnya (misalnya bumi kita dengan planet-planet yang lain)?
Nyatanya tidaklah demikian. Semua memperlihatkan bahwa perputaran dan pergerakan bintang-bintang dengan kecepatan tinggi tanpa bertabrakan dengan benda langit lainnya sejak saat pertama keberadaanya merupakan tanda dari keberadaan Alah Sang Pencipta, Sang Perencana, Sang Pengatur, Yang Mengatur Alam Semesta. Allah telah membuat jalur bagi setiap planet, bintang, dan komet di angkasa. Mereka semua berada di jalurnya masing-masing tanpa bertabrakan dengan yang lainnya.
Bagaimana, sekarang kita bisa tahu betapa kecilnya bumi yang kita diami ini, betapa kecilnya kita manusia ini, bahkan untuk menghitung ciptaan Allah saja kita tidak akan sanggup.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS .16:18 )
Kalau demikian sebenarnya, mengapa ada orang yang sombong ? apa yang patut kita sombongkan ?, lihatlah kelangit dan pahami betapa kecilnya kita.
Referensi :  GLORY IN THE HEAVENS – Harun Yahya
Semoga bermanfaat.


Read More

Shalat Angkat Manusia Menembus Ruang Tanpa Batas

0 komentar

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ
 
“Mari sejenak kita baca dan  renungkan artikel dibawah ini semoga kita bisa mengambil hikmah dari wanita pilhan Allah SWT…beliau Sayidah Maryam ibunda nabi Isa As “
Kalangan agamis berkeyakinan bahwa hanya Allah yang pantas dipuji dan disembah. Menurut mereka, Allah Swt melimpahkan kemuliaan dan ketenteraman kepada para hambanya. Dari satu ayat ke ayat lain dalam al-Quran, manusia selalu diajak menyembah Allah Swt. Bertasbih dapat mengangkat manusia menembus ruang tanpa batas dan membuka horizon yang lebih tinggi. Shalat merupakan menifestasi terindah penghambaan manusia kepada Allah Swt. Dalam surat al-‘Araf ayat 205 dan 206 disebutkan, “Dan sebuah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka men-tasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.”
Dalam kesempatan kali ini, kami akan membawakan kisah kerinduaan perempuan suci Sayidah Maryam akan ibadah kepada Allah Swt. Sayidah Maryam, ibu Nabi Isa as, menyadari bahwa umurnya tidak lagi berlanjut lama. Sayidah Maryam menyibukkan dirinya beribadah kepada Allah Swt, yang disaksikan malaikat maut. Tiba saatnya, beliau meninggalkan dunia menuju kehidupan abadi. Malaikat pencabut nyawa dengan hormat, meminta izin kepada Sayidah Maryam untuk mencabut nyawanya.
Sayidah Maryam, Hidup Untuk Shalat
Sayidah Maryam adalah sosok perempuan suci dan mulia. Beliau mempunyai derajat luar biasa di hadapan Allah Swt, hingga pada tahap kenikmatan surga akan dikirimkan oleh Allah Swt saat diinginkannnya. Dalam sejarah disebutkan, para malaikat saat memberikan kabar gembira kepada Sayidah Maryam, mengatakan, “Kamu dipilih oleh Allah Swt untuk melahirkan seorang anak suci dan ilahi.” Surat Ali Imran ayat 42 menyebutkan, “Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku.”
Sayidah Maryam dalam menjawab permohonan malaikat maut untuk mencabut nyawanya, meminta kesempatan untuk diizinkan bersujud kepada Allah Swt sebelum dicabut nyawanya. Melalui permintaan tersebut, Sayidah Maryam menunjukkan penghambaan dirinya di penghujung umurnya. Malaikat pencabut nyawa pun mengabulkan permintaannya. Sayidah Maryam pun bersujud merendah di hadapan Allah Swt. Saat itu pula, perempuan suci itu dicabut nyawanya dan berserah diri kepada Allah Swt.
Nabi Isa as di samping Ibunya memanggil-manggilnya, tapi tidak ada sahutan yang keluar dari mulut suci ibunya. Nabi Isa as dirudung duka yang luar biasa atas kepergian ibunya. Beliau sangat mencintai ibunya yang juga pembelanya. Nabi Isa as yang dapat menghidupkan orang-orang yang mati atas izin Allah Swt, kembali memanggil ibunya. Sayidah Maryam dengan izin Allah Swt, dapat kembali hidup. Nabi Isa as dalam kondisi meneteskan air mata karena diliputi rasa sedih, bertanya kepada ibunya, “Apakah engkau tidak ingin kembali ke dunia ini?” Sayidah Maryam merasa iba melihat putranya yang terus meneteskan air mata, dan berkata, “Ya, aku ingin kembali ke dunia ini untuk shalat di malam yang sangat dingin pada musim dingin dan puasa di hari yang sangat panas pada musim panas.”
Saat itu, Sayidah Maryam memandang putranya dan berkata, “Anakku, dunia ini sangat menakutkan.” Nabi Isa as menyaksikan kerinduan Ibunya untuk bertemu dengan Allah Swt. Meski diliputi rasa duka, Nabi Isa pun harus merelakan kepergian ibunya yang sudah merindukan kekasihnya, Allah Swt. Sayidah Maryam kembali menutup matanya dan meninggalkan dunia yang kelam ini untuk selamanya.
Shalat Obat di Kala Sulit
Masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai kendala sosial seperti krisis mental dan berbagai kejahatan. Tekanan jiwa dan krisis sosial adalah di antara fenomena menonjol di dunia modern ini. Sebuah riset mengenai aksi bunuh diri di AS menunjukkan bahwa 72 persen kasus bunuh diri terjadi karena stres, 13 persen karena candu alkoholik, delapan persen karena penyakit-penyakit jiwa dan tujuh persen karena berbagai masalah lainnya. Selain itu, fenomena buruk yang menimpa kalangan manula baik laki-laki maupun perempuan adalah keterkucilan sosial.”
Para psikolog menyampaikan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit kejiwaan. Akan tetapi para psikolog agamis mempunyai pandangan dan cara tersendiri dalam menyembuhkan penyakit ini. Menurut para psikolog agamis, shalat sangat membantu mengurangi kendala kejiwaan. Selain itu, shalat dapat menumbuhkan harapan dan semangat hidup manusia. Kalangan manula yang agamis, berkomitmen melakukan shalat. Pandangan dunia spritual merekalah yang mendorong untuk mengoptimalkan kesempatan di masa tua dengan berdzikir dan bertaubat kepada Allah Swt. Hal inilah yang melipatgandakan harapan kalangan manula akan rahmat dan ampunan Allah Swt.
Dengan demikian, shalat dan ibadah merupakan obat penenang yang luar biasa bagi para manula dan orang-orang yang stres. Shalat sangat membantu menjaga stabilitas kejiwaan manusia dalam berbagai kondisi krisis seperti kematian orang-orang yang dicintai dan kegagalan usaha. Karena shalat, manusia akan menemukan ketenteraman sehingga ia tidak akan melakukan hal-hal yang konyol saat ditimpa musibah. Terkait hal ini, Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 45 berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”
Pada intinya, dua hal prinsip yang sangat efektif dalam mengatasi berbagai problema adalah sabar dan shalat. Shalat menghantarkan manusia pada kekuatan ilahi yang luar biasa. Dengan ungkapan lain, manusia yang tidak pernah meninggalkan shalat, akan menjadi tangguh dan kokoh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan musibah. Insya-Allah, kami digolongkan dari kelompok pendiri shalat yanh sebenarnya. Amin
Read More

Mari Berdo’a dengan Doa Tawassul

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Kata Tawassul berarti perantara. Sedangkan doa tawassul ialah doa yang dipanjatkan seoran hamba kepada Allah SWT dengan menyebut nama nama manusia manusia suci di sisi Allah, atau orang yang mempunyai kedudukan tinggi disisiNya sebagai perantaranya.
Adapun doa tawassul  yang  tersusun dalam kitab Mafatihul Jinan adalah doa yang memakai nama Nabi SAWW, Imam Ali, Sayyidah Fatimah,Imam Hasan  dan Imam Husain serta sembilan Imam dari keturunan Imam Husain sebagai perantara antara kita dengan Allah SWT.

DOA  TAWASUL

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

اللَهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ اَلِ مُحَمَّدٍ

Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan Keluarga Nabi Muhammad

اللَهُمَّ اِنِّي اَتَوَ جَّهُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّ حْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُ  عَلَيْهِ وَ اَلِهِ

Ya Allah seseungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap padaMu dengan(dukungan) NabiMU, Nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, Shalawat atasnya dan atas keluarganya

ياَ أَباَ الْقَا سِمِ ، ياَ رَسُوْ لَ اللهِ ، ياَ اِ مَا مَ الَّر حْمَةِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Qosim, Wahai Rosullullah,Wahai Imam pembawa rahmat, Wahai junjungan kami,. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami. Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah.

ياَ أَباَ الْحَسَنِ ، ياَ اَمِيْرَ الْمُؤْ مِنِيْنَ ، ياَ عَلِيَّ بْنَ أَ بِيْ طَا لِبِ،

يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Hasan, Wahai Pemimpin kaum Mukmin,Wahai Ali bin Abi Thalib, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ فَا طِمَةُ الزَّ هْرَاءُ ، ياَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، يَا قُرَّ ةَ عَيْنِ الرَّ سُوْ لِ،

يَاسَيِّدَ تَنَا وَمَوْ لاَ تَنَا، إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكِ إِلَى اللهِ ،

وَقَدَّ مْنَا كِ بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًةًَ عِنْدَ اللهِ ،

اِشْفَعِيْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Fathimah Az Zahra, Wahai Putri Muhammad,Wahai cahaya mata(penghibur) Rasul, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ أَباَ مُحَمَّدٍ، ياَ حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ ، يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ،

يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abu Muhammad, Wahai Hasan bin Ali Al Mujtaba,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ عَبْدِ اللهِ، ياَ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيّ، اَيُّهَا السَّهِيْدُ،  يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ،

يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abu Abdillah, Wahai Husain bin Ali Asy Syahid,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ الْحَسَنِ ، ياَ عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ ، يَا زَيْنَ اْلعَا بِدِ يْنَ ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Hasan, Wahai Ali bin Husain,Wahai Zaenal Abidin, Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ جَعْفَرِ، يَا مُحَمَّدَ  بْنَ عَلِيٍّي، اَيُّهَا البَا قُِر، يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ،

يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abu Ja’far, Wahai Muhammad bin Ali Al Baghir,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ عَبْدِ اللهِ، ياَ جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ ، اَيُّهَا الصَّادِقُ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abu Abdillah, Wahai Ja’far bin Muhammad Ash Shadiq,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ الْحَسَنِ ،يَا مُوْسَى بْنَ جَعْفَرِ، اَيُّهَا الكَا ظِمُ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

ْبَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Hasan, Wahai Musa bin Ja’far Al Kadzim,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ الْحَسَنِ ، يَا عَلِيَّ بْنَ مُوْسَى، اَيُّهَا الّرِضَا،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Hasan, Wahai Ali bin Musa Ar Ridha,,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ جَعْفَرِ، يَا مُحَمَّدَ  بْنَ عَلِيٍّي، اَيُّهَا التَّقِيُّ الْجَوَادُ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Ja’far, Wahai Muhammad bin Ali At Taqi Al Jawad,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ اَباَ الْحَسَنِ ، يَا عَلِيَّ بْنَ مُحَمَّدٍ، اَيُّهَا الْهَادِيُّ النَّقِيُّ ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abul Hasan, Wahai Ali bin Muhammad Al Hadi An Naqi,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ أَباَ مُحَمَّدٍ، ياَ حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ ، اَيُّهَا الزَّكِيُّ الْعَسْكَرِيُّ،

ياَ بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Abu Muhammad, Wahai Hasan bin Ali Az Zaki Al Askari,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah

ياَ وَصِيَّ الْحَسَنِ ،وَالْخَلَفَ الْحُجَّةَ، اَيُّهَا الْقَاءِمُ الْمَهْدِيُّ،

يَا بْنَ رَسُوْلِ اللهِ، يَا خُجَّةَ ِللهِ عَلَى خَلْقِهِ ، يَاسَيِّدَ نَا وَمَوْ لاَ نَا،

إنَّا تَوَ جَّهْنَا وَ ا سْتَشْفَعْنَا وَتَوَ سَّلْنَا بِكَ إِلَى اللهِ ، وَقَدَّ مْنَا كَ

بَيْنَ يَدَ ىَّ حَا جَا تِنَا ، ياَ وَجِيْهًا عِنْدَ اللهِ ، اِشْفَعْ لَناَ عِنْدَ اللهِ

Wahai Pewaris Hasan, Wahai Khalifah yang Hujjah,Wahai yang dinanti kedatangannya,Wahai Mahdi,Wahai putra Rasullulah, Wahai Hujjah Allah atas mahlukNya, Wahai junjungan kami. Sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat dan bertawasul denganmu kepada Allah serta mengajukan padamu seluruh keperluan keperluan kami.Wahai yang terpandang di sisi Allah, berilah kami syafaat di sisi Allah
…Mohon lah Hajat Anda…

ياَ سَادَتِيْ وَمَوَالِيْ

Wahai junjungan junjungan dan Pemimpin peminpinku

إِنِّيْ تَوَجَّهْتُ بِكُمْ اَءِمَّتِيْ وَ عُدَّتِي لِيَوْمِ فَقْرِيْ وَحَا جَتِيْ إِلَي اللهِ

Sesungguhnya aku memohon kepada Allah melalui kalian wahai imam imamku, dari segala kepapaan dan kefakiran serta banyaknya kebutuhan kebutuhanku.

وَتَوَ سَلْتُ بِكُمْ إِلَى اللهِ

Dan aku bertawassul dengan kalian kepada Allah.

وَاسْتَثْفَعْتُ بِكُمْ إِلَى اللهِ

Dan Aku meminta Syafaat melalui kalian kepada Allah.

فَاشْفَعُوْالِيْ عِنْدَ اللهِ

Maka berilah kami syafaat disisi Allah.

وَاسْتَنْقِذُوْنِيْ مِنْ ذُنٌوْ بِيْ عِنْدَ اللهِ

Dan selamatkan aku dari dosa dosaku disisi Allah.

فَإِ نَّكُمْ وَسِْيلَتِيْ إِلَى اللهِ

Karena sesungguhnya kalian wasilah(perantara) kepada Allah.

وَبِحُبِّكُمْ وَبِقُرْ بِكُمْ أَرْجُوْنَجَا ةً مِنَ اللهِ

Dan dengan mencintai dan mendekati kalian, aku mengharapkan keselamatan dari Allah

فَكُوْ نُوْا عِنْدَ اللهِ رَجَاءِيْ

Maka jadilah kalian sebagai tumpuan harapanku di sisi Allah.

يَا سَا دَتِيْ، ياَ أَ وْ لِيَاءَ اللهِ

Wahai para junjunganku, Wahai para kekasih Allah.

صَلَّى الله ُعَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ

Karunia Allah atas mereka semua

وَلَعَنَ الله ُ أَعْدَ اَء اللهِ ظاَ لِمِيْهِمْ مِنَ اْلاَوَّ لِيْنَ وَاْلاَخِرِيْنَ

Dan laknat Allah atas para musuh musuh Allah yaitu orang orang yang menganiaya (merampas hak hak mereka) baik dari yang pertama hingga yang terahir

اَمِيْنَ ياَ رَبَّ اْلعَا لَمِيْنَ

Amin ya Rabbal Alamin.
Anda bisa juga mendownload Doa diatas melalui link ini : DOA TAWASUL
Read More

Khutbah Sayyidah Fatimah Zahra as

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Untaian kata yang penuh hikmah dari  wanita Pilihan Allah SWT, Putri Rosullullah SAWW, wanita penghuni surga yang paling utama… Beliau Sayyidah Fatimah Zahra as..
Wahai ummat manusia yang bergegas ke arah ucapan batil
Yang diam dan rela atas tindakan keji dan merugi
Apakah kalian tidak merenungkan Al-quran atau ada gembok di hati kalian
Tidak demikian yang sesungguhnya, melainkan perbuatan buruk kalian telah mengalahkan hati kalian
Maka dia telah merampas telinga dan mata kalian
Sejelek-jeleknya penakwilan adalah penakwilan kalian
Seburuk-buruknya ganti adalah kebatilan yang kalian jadikan sebagai ganti dari kebenaran
Sungguh dan sungguh demi Allah kalian akan menerima beban yang berat dan akibat yang dahsyat (di hari kiamat nanti)

Khutbah Sayyidah Fatimah Zahra as


Rasulullah SAW bersabda: “wanita penghuni surga yang paling utama ada empat; Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, Asiyah bintu Muzahim –istri Fir’aun-, dan Maryam bintu Imran”[1]. Rasulullah SAW bersabda: “sebaik-baik wanita alam semesta ada empat; Maryam bintu Imran, Asiyah bintu Muzahim, Khadijah bintu Khuwailid, dan Fatimah bintu Muhammad”[2]. Rasulullah SAW bersabda: “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang membuatnya marah niscaya telah membuatku marah” “Fatimah adalah bagian dariku, maka barang siapa yang mengganggunya niscaya telah menggangguku” “sesungguhnya Allah murka dengan murka Fatimah dan rela dengan rela Fatimah”[3]
Puja bagi Allah atas nikmat yang telah Dia berikan
Terima kasih pada Allah atas apa yang telah Dia ilhamkan (nikmat batin)
Puji bagi Allah atas apa yang telah Dia sodorkan;
Berupa nikmat-nikmat umum yang Dia mulai (sebelum ada hak sedikitpun pada manusia)
Berupa anugerah yang berlimpah dan sempurna
Dan berupa semua pemberian yang berturut-turut
Begitu banyak nikmat Allah sehingga tidak mungkin untuk menghitungnya
Tidak mungkin untuk menjangkau batasannya
Selamanya tidak akan mungkin untuk diketahui semua
Dia mengajak mereka untuk minta tambah dengan cara bersyukur, karena sambungan yang terdapat dalam nikmatNya
Mengharuskan makhluknya untuk memuja dengan limpahan nikmatNya
Sebagaimana Dia juga mengajak mereka pada hal-hal yang serupa
Aku bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tak bersetara”, sebuah kalimat yang kembali pada ketulusan (ikhlas)
Kalimat yang capaiannya telah ditanamkan di hati setiap orang
Kalimat yang rasionalisasinya tercerahkan dalam pikiran
Allah yang mata tak mampu melihatnya
Lidah tak sanggup menyifatiNya
Pikiran tak dapat menjangkau bagaimana Dia
Dia ciptakan segala sesuatu tidak dari sesuatu sebelumnya
Dia ciptakan tanpa menyontek contoh yang lain
Dia adakan dengan kekuasaanNya dan Dia ciptakan dengan kehendakNya
Tanpa Dia butuh pada penciptaan itu
Tanpa ada faidah dari penggambaran itu
Tiada lain hanya merupakan pembuktian atas hikmahNya, peringatan atas ketaatan padaNya, penjelasan kuasaNya, penyembahan hambaNya, dan penegasan ajakanNya
Kemudian Dia tetapkan pahala bagi ketaatan padaNya
Dia tentukan siksa bagi kemaksiatan padaNya
Untuk mencegah hamba-hambaNya dari murka
Dan mendorong mereka ke arah surgaNya
Aku bersaksi bahwa ayahku (Muhammad) adalah hamba dan utusanNya
Dia telah memilihnya sebelum menciptakan
Dia telah memilihnya sebelum mengutus
Di saat manusia masih tersembunyi dalam gaib
Di saat manusia masih terhalang oleh tabir yang menyeramkan
Di saat manusia masih sarat dengan ketiadaan
Atas dasar ilmu Allah terhadap tempat kembalinya segala sesuatu
Atas dasar pengetahuanNya terhadap segala hal yang akan terjadi
Atas dasar makrifatNya terhadap situasi dan kondisi serta maslahat segala hal yang Dia tentukan
Allah mengutus Muhammad untuk melengkapkan urusanNya
Sebagai tekad untuk menetapkan hukumNya
Sebagai penerapan takdir-takdirNya yang pasti
Kemudian Dia saksikan penduduk bumi berpecah belah dalam agama mereka
Mereka yang tunduk beribadah pada api
Mereka yang menyembah arca
Mereka yang mengingkari Allah di saat mereka mengetahuiNya
Maka Allah menerangi kegelapan itu dengan Muhammad SAW
Dia lapangkan hati dari problema
Dia jelaskan mata dari kesamaran
Dan Rasulullah bangkit di tengah ummat manusia dengan membawa hidayah
Menyelamatkan mereka dari kesesatan
Menyembuhkan mereka dari kebutaan (mata dan hati)
Menunjukkan mereka pada agama yang tegak
Mengajak mereka pada jalan yang lurus
Kemudian Allah menariknya karena cinta dan keinginan serta pilihan
Maka beliau tenang dan terlepas dari lelahnya kehidupan di dunia
Sungguh beliau dikelilingi oleh para malaikat yang suci
Diridloi oleh Allah Yang Maha Pengampun
Dekat di sisi Maha Raja Yang Perkasa
Shalawat dan salam serta rahmat dan barakat Allah semoga senantiasa tercurahkan pada ayahku
Muhammad nabiNya, manusia kepercayaanNya untuk menerima wahyu, manusia pilihanNya, manusia yang terbaik di antara ciptaanNya dan manusia yang diridloiNya.
Kemudian beliau mengalihkan perhatian pada hadirin seraya berkata:
Kalian, wahai hamba-hamba Allah, adalah maksud dari perintah dan laranganNya
Kalian adalah pemikul agama dan wahyuNya
Kalian adalah orang yang dipercaya Allah untuk menjaga agamaNya
Kalian adalah orang yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah ini pada ummat yang akan datang
Seorang pemimpin kebenaran ada di tengah kalian
Dia telah mengambil janji kalian atas kewajiban
Dia tinggalkan sesuatu pada kalian
Kitab Allah yang berbicara
Qur’an yang jujur dan benar
Cahaya yang berkilauan
Sinar yang terang benderang
Bukti-buktinya jelas dan rahasia-rahasianya terungkap
Lahirnya nampak
Membuat senang pendukungnya
Membawa pengikutnya menuju keridoan Allah
Mendorong pendengarnya ke arah keselamatan
Dengannya, dapat diperoleh hujjah-hujjah Allah yang bersinar, dan
Kewajiban-kewajibanNya yang sudah dijelaskan oleh Al-quran
Larangan-laranganNya yang telah diperingatkan
Bukti-buktiNya yang terang
Dalil-dalilNya yang cukup
Keutamaan-keutamaan yang dianjurkan
Keringanan-keringanan yang diberikan
Dan syariat yang diharuskan
Maka Allah menjadikan iman sebagai penyuci kalian dari kesyirikan
Shalat sebagai pembersih kalian dari kesombongan
Zakat sebagai penjernih diri dan pengembangan rejeki
Puasa sebagai pendalam ketulusan
Haji sebagai penguat agama
Keadilan sebagai pengatur kalbu
Ketaatan pada kami [Ahlulbait as] sebagai sistem untuk bangsa
Kepemimpinan kami sebagai jaminan aman dari pecah belah
Jihad dan perjuangan sebagai kehormatan Islam
Kesabaran sebagai penopang untuk meraih pahala
Amar makruf sebagai maslahat umum
Bakti pada kedua orang tua sebagai penghindar murka
Silaturahmi sebagai penambah jumlah
Qisas sebagai penjaga darah
Kesetiaan pada nadzar sebagai peluas ampunan
Jujur dalam tolok ukur dan timbangan sebagai perubah kikir
Larangan minum arak sebagai pembasmi noda
Larangan menuduh zina sebagai tabir penghalang kutukan
Larangan mencuri sebagai penjamin kesucian
Larangan syirik sebagai ketulusan padaNya dalam pengaturan
Maka bertaqwalah kalian pada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya, dan jangan kalian mati kecuali dalam kaadan muslim
Taatilah perintah dan laranganNya
Karena sesungguhnya hanya hamba-hamba Allah yang alim yang takut padaNya.
Wahai ummat manusia!
Ketahuilah bahwa aku adalah Fatimah!
Ayahku adalah Muhammad
Kukatakan untuk pertama dan terakhir kalinya
Aku tidak berkata salah dan tidak bertindak lalim
Sungguh-sungguh telah datang pada kalian utusan Allah dari jenis kalian sendiri, resah atas kesulitan yang menimpa kalian dan bersikeras untuk memberi petunjuk pada kalian serta lembut dan sayang terhadap orang-orang yang beriman[4]
Apabila kalian hendak menisbatkan asal usulnya maka kalian akan mendapatkan bahwa beliau adalah ayahku dan bukan ayah dari wanita kalian
Beliau adalah saudara misananku dan bukan saudara dari pria kalian
Maka sebaik-baik penisbatan adalah orang yang dinisbatkan padanya
Rasulullah menyampaikan misinya dengan menegaskan peringatan
Keluar dari jalur orang-orang musyrik
Menebas belikat mereka
Membungkam mulut mereka
Mengajak pada jalan Tuhannya dengan hikmah dan nasihat yang baik
Memecahkan arca dan menumbangkan kekafiran
Sampai akhirnya mereka kalah dan mundur
Malam terbelah oleh pagi (kedzaliman terpendam oleh Islam)
Terbitlah kebenaran yang murni
Pemimpin agama berbicara tentang agama dan perkara muslimin
Kicauan setan membisu
Pendukung kemunafikan runtuh
Jalinan kafir dan perpecahan terurai
Kalian berucap tulus
Dan orang-orang yang bercahaya putih karena lapar (puasa)
Di saat kalian sebelumnya berada di mulut api neraka
[kalian adalah] orang yang meneguk segala minuman walau bukan miliknya
Orang serakah yang tidak melewatkan satu kesempatan pun untuk menuruti kesrakusannya
Bara api orang yang tergesa-gesa

Read More

Air Mata Kerinduan Uwais AlQarani Kepada Rasul saww

0 komentar

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ
Di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarani yang berasal dari kabilah Qaran. Uwais Al-Qarani mempunyai jiwa yang bersih dan mulia. Dia seorang yang pintar dan selalu melakukan pencarian makna hidup. Meskipun saat itu dia masih belum mengenal ajaran Islam yang mulia, dia sangat menghormati nilai-nilai mulia kemanusiaan. Di antara sikap dan perilaku Uwais yang paling menonjol sekali ialah penghormatan yang besar terhadap ibunya. Dia bersikap amat lemah-lembut kepada ibunya yang sudah tua dan dia amat mengerti tanggung jawabnya sebagai anak. Dia dapat merasakan kesulitan seorang ibu dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Oleh karena itu, dia melayani ibunya seperti seorang pelayan yang taat dan patuh. Uwais sama sekali tidak melupakan jerih payah ibunya.
Suatu saat, Uwais Al-Qarani mendengar kabar bahwa ada seorang nabi yang berhijrah dari kota Mekah ke Madinah dan sebagian dari masyarakat mengikuti ajaran nabi tersebut. Uwais dengan perenungannya, sampai kepada kesimpulan bahwa Muhammad adalah seorang nabi yang benar-benar diutus oleh Tuhan karena perintah dan ajaran yang disampaikan beliau berlandaskan kepada akal dan sesuai dengan nilai-nilai tinggi insani. Uwais mempercayai kenabian Muhammad saaw dan dia ingin sekali bertemu dengan beliau. Dia ingin melakukan perjalanan ke Madinah dan melihat sendiri keindahan hati Muhammad dari dekat. Tetapi, kondisi ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuatnya mengurungkan niatnya itu. Berbulan-bulan lamanya Uwais memendam harapan dan impiannya tersebut. Sampai suatu hari, dia mengambil keputusan untuk menceritakan keinginannya itu kepada ibunya.
Uwais dengan sopan duduk di hadapan ibunya dan berkata, “Wahai ibu, aku tidak dapat menahan hati untuk bertemu dengan seorang lelaki yang telah diutus sebagai nabi. Engkau pun tahu bahwa anakmu ini tidak pernah berfikir tentang hal-hal selain dari kebaikan dan kebenaran. Jika ibu mengizinkan, aku ingin sekali pergi menemui Rasul Tuhan itu dari dekat.”
Ibu Uwais yang amat terkesan melihat kesungguhan dan gelora keinginan anaknya untuk bertemu dengan Nabi, berkata, “Wahai anakku, aku izinkan engkau untuk pergi ke Madinah, tetapi aku minta supaya setelah engkau bertemu dengan Nabi segeralah engkau pulang ke Yaman dan janganlah engkau berlama-lama di sana.”
Dengan penuh gembira, Uwais menerima permintaan ibunya itu dan dia pun melakukan perjalanan untuk pergi ke Madinah. Meskipun perjalanan begitu jauh dan menyulitkan, namun semangat dan keinginannya yang besar untuk bertemu Nabi menyebabkan dia merasa begitu gembira hingga tidak merasa lelah dalam perjalanan. Siang dan malam dia tempuh perjalanan tanpa menghiraukan kesulitan dan kelelahan yang menderanya.
Akhirnya, sampailah Uwais Al-Qarani ke kota Madinah. Dengan tidak sabar lagi, dia bertanya ke sana kemari untuk mencari Nabi Muhammad. Tetapi, berita yang didapatkannya amat mengecewakan. Orang-orang Madinah memberi tahu Uwais bahwa Nabi sedang keluar dari kota untuk beberapa hari. Begitu Uwais mendengar berita ini, dia mengeluh panjang dan terduduk di atas tanah. Segala kelelahan terasa menimpa seluruh tubuhnya. Sedemikian besar rasa kecewa yang menyelubunginya sehingga dia menangis sejadi-jadinya. Orang-orang membujuknya dengan mengatakan bahwa dia bisa tetap tinggal di Madinah dan menjadi tamu mereka sampai Rasulullah kembali dari perjalanannya. Tetapi Uwais berkata bahwa dia mempunyai seorang ibu tua yang sedang menanti kepulangannya.
Uwais mengambil keputusan untuk segera pulang ke Yaman meskipun dia belum berhasil menemui Nabi, demi melaksanakan janjinya kepada sang ibu. Dia berkata kepada para sahabat dan keluarga Nabi, “Aku terpaksa pulang ke Yaman. Aku minta pada kalian, jika Rasulullah pulang, sampaikanlah salamku kepadanya.”
Beberapa hari kemudian Rasulullah saaw pulang ke Madinah. Ketika beliau mendengar kisah Uwais, beliau memujinya dan berkata, “Uwais telah pergi, namun cahayanya tetap tinggal di rumah kami. Angin sepoi dan aroma wewangian syurga bertiup ke arah Yaman. Wahai Uwais! Aku juga ingin sekali menemuimu. Sahabat ku, siapapun di antara kalian yang bertemu dengan Uwais, sampaikanlah salamku kepadanya.” Dalam sejarah dikatakan bahwa memang Uwais tidak pernah dapat bertemu dengan Rasulullah. Tetapi, karena pengorbanan yang telah dilakukannya buat ibunya, namanya tercatat abadi dalam sejarah.
Kami akhir artikel ini dengan mengutip dua hadis Rasulullah saaw:
“Tuhan memanjangkan usia orang-orang yang melakukan kebaikan kepada orang tua mereka.”
“Siapa saja yang menggembirakan hati ibu dan bapaknya, Tuhan juga akan menggembirakan mereka dan siapa saja yang membuat ibu bapa mereka marah, Tuhan juga akan murka terhadap mereka.”
Read More

IMAM AL-MAHDI dan JANJI KEADILAN SEDUNIA

0 komentar
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ

Melengkapi Topik Tokoh , kali ini saya akan mengangkat Biografi seorang Tokoh Panutan yang dinanti oleh semua Orang. Beliau adalah Imam ke 12 . Namanya sama dengan Nama Nabi Saww, begitu juga dengan julukannya.
Riwayat Singkat Imam Al-Mahdi
Nama : Muhammad.
Gelar : Al-Hadi, Al-Mahdi dan Al-Qa’im.
Julukan : Abul Qasim.
Ayah : Imam Hasan Al-Askari as.
Ibu : Nargis Khatun.
Kelahiran : Samarra, 256 Hijriah.

Hari Lahir :
Imam Al-Mahdi as lahir pada 15 Sya’ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa kaum tertindas di dunia.
Ayah Imam as adalah Imam Hasan Al-Askari as dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu Hawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as, yaitu Sam’un Ash-Shafa.
Imam Mahdi as adalah Imam terakhir , Secara khusus, sang datuk, Rasulullah saw telah memberitakan kehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman.”
Beliau dikenal dengan panggilan Abul Qasim , dan gelar mulia “Al-Mahdi”. Dengan demikian, beliau membawa nama sekaligus panggilan junjungan kita Muhammad saw, sebagaimana beliau pun membawa risalah agamanya, Islam.
Para penguasa zalim menjadi begitu awas dan senantiasa mengintai kelahiran Imam Mahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang telah dilakukan Fir’aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir. Namun, mereka tidak sadar bahwa Fir’aun, meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa yang dimilikinya sampai membunuh secara massal bayi-bayi yang baru lahir, usahanya itu mengalami kegagalan total.
Al-Mu’tamid, Khalifah Abbasiyah—sosok Fir’aun pada masanya—pun ingin melakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir’aun berusaha mencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya. Ia seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as.
Ketika Imam Hasan as diracun, beliau dibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Al-Mu’tamid menugaskan lima orang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di sekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya mengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga dan membantu proses kelahiran istri Imam as.
Kota Samarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari. Orang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk kota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara penguburan yang kudus, agung, dan akbar.
Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal atas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi kejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang wajar dan alamiah.
Al-Mu’tamid mengutus saudaranya untuk menghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam. Di sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa Imam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi pewaris sah atas harta peninggalan beliau.
Namun, betapapun usaha untuk menutupi cahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari as dibunuh, putra beliau berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan imamah pada usia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam buaian.
Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam Al-‘Askari as, saudara beliau—yang bukan orang baik-baik—hendak memimpin shalat jenazah. Namun, putra beliau, Imam Al-Mahdi ajf—yang masih belia—mendorongnya ke samping dan beliau sendiri maju ke depan memimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, beliau menghilang dari pandangan mata.
Keadaan ketika Imam Al-Mahdi Lahir
Hakimah, bibi Imam berkata, “Aku pergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya’ban. Ketika aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, ‘Wahai bibi, tinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir.’
“Aku sangat bergembira dan berbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi). Namun, aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri beliau. Aku terkejut dan bergumam, ‘Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya.’
“Pada saat-saat itu, Imam datang padaku dan berkata, ‘Duhai bibi, jangan bersedih. Nargis seperti ibunda Nabi Musa as, dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa tanda-tanda apa pun yang menyertai kelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada Shubuh hari.’
“Aku berbahagia menemani Nargis, sambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis muncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara diriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan keluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah terjadi. Beliau tersenyum dan berkata, ‘Kembalilah, beberapa saat lagi engkau akan melihatnya.’
“Aku kembali ke kamar dan melihat seorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya ke angkasa sembarai berzikir dan memuji Allah dengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya, dan keesaan-Nya.”
Kisah Ibunda Nargis
Salah seorang budak Imam Hadi as, Busyr Al-Anshari menukil sebuah kisah sehubungan dengan kejadian itu:
Suatu hari, Imam Hadi as memanggilku dan berkata padaku, “Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu. Pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu.” Beliau memberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi 200 Dinar emas. Beliau berkata, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke Baghdad. Nantikan kapal yang akan berlabuh besok harinya di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang dibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari Bani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain.
“Di atas kapal itu, ada seorang wanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi permintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya, ‘Aku siap membeli wanita itu dengan harga 200 Dinar emas.’ Tetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya berkata, ‘Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual. Kamu harus terima tawaran pemuda itu.’ Tapi ia menukas, ‘Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang.’ Lalu kau maju ke depan berikan surat itu kepadanya, dan katakanlah ‘Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat ini, aku akan membelinya.’ Setelah membaca surat yang disodorkan padanya, wanita itu merasa senang. Lalu bayarlah harganya dengan uang ini, dan serahkanlah kepada tuannya. Setelah itu, bawalah wanita itu kemari.”
Aku kerjakan apa yang diperintahkan Imam kepadaku. Aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam perjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya, ‘Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa. Ayahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya. Suatu hari, ia mengadakan sebuah pertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di singgasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul untuk menikahkan aku dengannya. Tiba-tiba istana berguncang, yang membuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari singgasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya. Mereka kembali mengadakan pertemuan itu. Namun, kejadian yang sama juga kembali terjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk. Mereka segera meninggalkan istana. Pada malam yang sama, aku tertidur dalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi melihat dua orang pria dengan cahaya yang memancar dari tubuhnya datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu adalah Nabi Isa, dan yang lainnya berkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw. Rasulullah saw berhadapan dengan Nabi Isa as, beliau berkata, ‘Aku meminang cucumu untuk cucuku.’ Nabi Isa as sangat gembira dengan pinangan itu. Beliau menerima pinangan Rasulullah saw. Aku bangkit dari tempat tidurku dan tidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku jatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa kondisiku. Namun, tidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku. Aku memohon kepada ayahku untuk membebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia mengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah itu aku pun sembuh dari sakitku. Pada malam yang sama, aku sekali lagi bermimpi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa wanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as dan Fatimah, putri Rasulullah saw. Fatimah maju ke depan dan berkata kepadaku, ‘Jika engkau ingin menjadi istri putraku, engkau harus menjadi muslim.’ Dalam mimpi malam itu, aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu, ia membawaku menjumpai anaknya, Imam Hasan Al-Askari. Cintanya menawan hatiku dengan kuat, dan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana aku dapat menjadi istrimu?’ Beliau berkata, ‘Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim serdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di barisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan engkau akan ditahan sebagai tawanan perang. Lalu engkau akan dibawa ke Baghdad untuk dijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat. Kapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari kapal itu untuk dijual. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun, tunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang dengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan membawamu pergi.’ Aku terjaga dari mimpi dan merasa gembira. Setelah beberapa waktu berlalu, apa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-‘Askari dalam mimpi itu terjadi. Wahai Busyr! Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah, jangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu saja.”
Ketika Nargis menukilkan kisah itu kepadaku, terasa gemetar sekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan aku ini adalah budaknya. Aku membawa beliau ke hadirat tuanku, Imam Hadi as.
Imam Hadi as bertanya kepada wanita itu, bagaimana kisahmu sampai memeluk Islam? Dia menjawab, “Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang aku.”
Beliau lalu berkata, “Berita gembira untukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan dan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia.”
Kemudian, beliau memalingkan wajahnya kepada saudarinya, Hakimah, “Wahai saudariku! Inilah wanita yang kau nanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya.”
Hakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.
Periode Kehidupan Imam Al-Mahdi
Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi ajf dapat dibagi menjadi tiga bagian:
1. Pra-imamah
Yaitu, sejak lahir hingga syahadah ayahanda beliau, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima tahun.
Selama periode ini, Imam Hasan as senantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga tidak ada yang dapat melihatnya kecuali sebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan beliau.
Penjagaan ketat ini beliau lakukan lantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka yang begitu ketat mengawasi kediaman beliau.
2. Kegaiban Kecil (Ghaibah Shughra)
Periode ini dimulai pada waktu beliau berusia enam tahun dan terus berlanjut hingga beliau berusia tujuh puluh enam tahun. Selama periode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan beliau. Akan tetapi, sahabat-sahabat beliau tetap memiliki kesempatan untuk bertemu dengan beliau dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.
Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat orang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf, sekaligus menjadi perantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau pun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as, dan juga sebaliknya menyampaikan jawaban Imam kepada mereka.
Empat sahabat Imam Mahdi as itu adalah:
1. Utsman bin Sa’id
2. Muhammad bin Utsman
3. Husain bin Ruh
4. Ali bin Muhammad Samuri
Periode ini berakhir dengan wafatnya sahabat keempat Imam pada tahun 329 H. Sebelum wafatnya, beliau telah menyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi ajf segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar.
3. Kegaiban Besar (Ghaibah Kubra)
Sepanjang periode ini—yang entah sampai kapan, hanya Allah SWT Yang Mahatahu—Imam Muhammad Al-Mahdi ajf menghadiri perhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut beliau. Beliau hadir tanpa diketahui oleh seorang pun.
Tidak ada satu orang pun yang mengenali beliau. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan tempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa Imam telah datang ke tempat mereka.
Masa Penantian
Imam Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan dirinya kepada fuqaha (ulama dan pakar hukum Islam) yang handal dalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat Islam selama kegaiban beliau. Namun demikian, mereka menyediakan lahan dalam rangka menyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam ma’shum ini.
Orang-orang di masa kini, menantikan kedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang berarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya membuka jalan bagi kemunculan Imam ajf. Sebaliknya, orang yang menanti adalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat, memiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia melempangkan jalan bagi kemunculan dan kedatangan beliau.
Seorang penanti sejati persis ibarat pendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan berjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya. Ia senantiasa siap-sedia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak. Tak pelak lagi, ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai puncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan membawanya kepada tujuan.
Dengan demikian, penantian berarti pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh, berkarya, dan berkreasi untuk kemaslahatan umat manusia. Jika prinsip dasar ini tidak tertanam secara baik dalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak lagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.
Prinsip Penantian (Intizharul Faraj) dalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang memberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ia membina dirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu memerangi dan menghilangkan kegelapan, menyingkirkan para sufi gadungan dan kaum yang bersikap permusuhan terhadap Imam Mahdi ajf.
Dengan kekuatan pergerakannya yang tak terbendung itu, seorang muslim akan menciptakan sebuah lingkungan yang siap membentuk pemerintahan tunggal alam semesta. Sehingga, ketika tiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah SWT dengan pesona kepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi kenyataan, Insya Allah. Dialah Imam Mahdi ajf.
Orang-orang Yang Bertemu Imam
Walaupun Imam Muhammad Al-Mahdi ajf tidak menunjukkan diri beliau kepada siapa pun secara langsung dalam masa Ghaibah Kubra ini, namun mereka yang memiliki jiwa yang suci dan bertakwa, sewaktu-waktu dapat berjumpa dan berbicara dengan beliau.
Di sini kami akan sebutkan beberapa kejadian yang menceritakan perjumpaan mereka dengan Sang Imam ajf. Mereka itu antara lain:
1. Ismail bin Hirqili Syamsuddin
Syamsuddin bercerita, “Pernah ayahku berkisah tentang kakinya yang terluka dan kemudian terobati. Ketika masih muda, ayahku menderita luka dan infeksi pada bagian pahanya. Luka itu sungguh membuatnya tidak berdaya.
“Suatu hari ia berkunjung kepada salah seorang sahabatnya, Sayyid Raziuddin Thaus di Hillah, Irak. Sahabat itu membantunya dengan mengumpulkan para tabib untuk memeriksa dan mengobati luka infeksi itu. Akan tetapi, setelah para tabib itu memeriksa luka itu, mereka memberikan jawaban negatif. Mereka berkesimpulan bahwa paha yang terinfeksi karena luka itu harus segera di operasi. Resiko yang dapat terjadi adalah paha ayahku itu diamputasi atau ia akan mati.
“Tahun berikutnya, Sayyid yang baik hati itu mengajak ayahku pergi ke Baghdad dan membawa beliau untuk diperiksa oleh para tabib di kota itu. Jawaban mereka atas pemeriksaan itu sama dengan jawaban tabib sebelumnya.
“Kesedihan, kekecewaan, dan rasa kecil hati menyelimuti perasaan ayahku ketika itu. Ia datang berziarah ke Haram Imam Al-Askari as di Samarra. Di Haram itu, beliau bermalam dan bertawassul untuk meminta pertolongan kepada Imam Zaman ajf.
“Tatkala fajar menyingsing, ia pergi ke arah Sungai Dajlah untuk membasuh pakaiannya sekaligus mandi, lalu kembali berziarah ke Haram Imam Al-Askari. Ayahku mengatakan, ‘Pada perjalananku kembali menuju Haram Imam Al-Askari, aku berjumpa dengan dua orang penunggang kuda. Semula, aku pikir mereka itu adalah orang-orang dari suku Badui. Mereka memberikan salam kepadaku. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Mari mendekat kepadaku.’ Karena aku telah membersihkan pakaianku, aku tidak mendekat kepada mereka. Aku lihat orang-orang Badui Arab itu kotor. Aku khawatir bajuku yang masih basah itu akan ternodai oleh tangan mereka.
‘Selagi aku masih berpikir tentang mereka, tiba-tiba ia menarikku untuk mendekat padanya. Ia menempelkan tangannya pada lukaku yang membuatku mengerang kesakitan. Setelah beberapa saat, ia mengangkat tangannya dari pahaku yang terluka itu seraya berkata, ‘Ismail, sekarang engkau telah sembuh. Janganlah engkau bersedih dan berkeluh kesah lagi.’
‘Aku terkejut ketika orang itu memanggil namaku. Ia pergi meninggalkan aku yang masih termangu dan sibuk dengan pikiranku sendiri.
‘Aku yakinkan diriku bahwa orang itu adalah Imam Al-Mahdi ajf. Aku membuntuti beliau dan memohon padanya untuk berhenti. Tiba-tiba ia berbalik dan berkata kepadaku, ‘Ismail pulanglah.’
‘Aku tidak menghiraukan perkataannya itu. Aku tetap berlari mengejarnya. Orang yang beserta beliau dalam perjalanan itu turut berbicara, ‘Wahai Ismail pulanglah. Apakah engkau tidak merasa malu mengabaikan perintah Imam Mahdi?’
‘Mendengar perkataan orang tersebut, dugaanku benar bahwa beliau adalah Imam Mahdi dan Sang Pelindung Umat.
‘Aku pun berhenti dan menatap beliau pergi. Selang beberapa saat kemudian mereka telah menjauh dan menghilang dari pandanganku.’
Syamsuddin menuturkan, “Sejak hari itu ayahku menjadi lebih sering ke Samarra. Namun sayang, beliau tidak melihat Imam lagi hingga akhir hayat beliau dengan asa dan kerinduan untuk bersua lagi dengan Imam Mahdi ajf.
2. Sayyid Muhammad Jabal Amili
Sayyid Muhammad Jabal Amili menuturkan perjalanannya kepada seorang sahabatnya. Ia berkata, “Setahun aku dalam perjalanan ke Masyhad. Karena tidak memiliki uang yang cukup, aku menjadi sangat susah.
“Hingga pada suatu waktu, sebuah kafilah bergerak. Namun karena aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan, aku pergi berziarah ke Haram (pusara) Imam Ridha di Masyhad dan mengadukan kesulitanku kepada beliau. Dengan perut kosong menahan lapar, aku tetap mengejar kafilah itu. Sebab, jika aku berdiam diri di kampungku pada musim dingin, aku akan mati kedinginan.
“Aku berusaha berlari mengejar kafilah itu, tetapi aku justru kehilangan arah. Aku tersesat jalan dan mendapati diriku di tengah padang sahara yang panas membakar. Karena rasa lapar, aku sama sekali tidak lagi kuasa menggerakkan badanku. Aku berusaha mencari tumbuh-tumbuhan sahara dan rerumputan gurun pasir untuk mengganjal perutku yang kosong. Namun aku sama sekali tidak dapat menggerakkan badanku, apalagi untuk menemukannya.
“Hingga malam pun tiba dan kegelapan menyelimuti padang sahara. Raungan binatang buas, dengungan hewan-hewan padang pasir membuatku tercekam rasa takut. Aku menjerit menangis dan pasrah menanti maut yang sebentar lagi akan datang menjemputku.
“Tidak lama setelah bulan menampakkan dirinya dan suara bising kawanan hewan-hewan sahara itu berhenti, tiba-tiba aku menangkap bayangan sebuah bukit kecil, tumpukan bukit pasir. Aku berusaha mengangkat kaki menuju tempat itu. Aku melihat ada sumur di sana. Aku menimba air dari sumur itu untuk melepaskan dahagaku dan mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat. Namun aku tak lagi berdaya sama sekali. Aku tidak memiliki tenaga sedikit pun untuk bergerak karena menahan rasa lapar. Aku merangkak ke tempat itu untuk tidur dan pasrah menantikan ajalku.
“Tiba-tiba, aku melihat seseorang datang menunggang kuda, bergerak ke arahku. Aku berpikir, orang ini barangkali salah seorang dari kawanan rampok padang pasir. Aku tidak memiliki sesuatu apapun sehingga ia akan membunuhku dan membebaskanku dari rasa lapar.
“Ketika orang itu tiba di dekatku, ia menyampaikan salam kepadaku. Aku menjawab salamnya itu. Dan dengan salamnya itu tertepislah dugaanku. Ternyata, ia bukanlah dari kawanan rampok padang pasir.
“Ia bertanya, ‘Apa yang sedang kau cari?’
“Aku berusaha menjawab pertanyaan itu dengan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki. Aku mengatakan bahwa aku lapar dan tersesat jalan.
“Ia berkata, ‘Engkau memiliki buah melon di sampingmu. Mengapa engkau tidak memakannya?’
“Aku yang tadinya mencari kesana-kemari sesuatu yang dapat aku makan, berpikir bahwa ia sedang bercanda. Aku berkata padanya, ‘Anda jangan bergurau. Tinggalkanlah aku sendirian menanti ajal kan tiba.’
“Ia berkata, ‘Aku tidak bercanda. Lihat apa yang di sampingmu!’
“Kulihat, ada tiga buah melon tergeletak di sebelahku.
“Ia berkata, ‘Makanlah satu dari buah melon itu dan sisanya engkau simpan sebagai bekal perjalananmu dan tempuhlah jalan ini. (Orang itu menunjukkan jalan kepadanya, penj.). Menjelang matahari tenggelam, engkau akan sampai di sebuah kemah. Merekalah yang akan menuntun jalan untukmu sampai pada kafilah yang engkau ingin susul.’
“Setelah berkata-kata, orang itu pun menghilang. Seketika aku mengerti bahwa orang itu adalah Imam Mahdi ajf.
“Sesuai dengan petunjuknya, aku makan satu dari buah melon itu. Aku merasa sedikit pulih dan kuat untuk melanjutkan perjalanan. Pada hari berikutnya, aku makan lagi satu dari buah melon itu dan kembali melanjutkan perjalanan.
“Sebagaimana yang beliau katakan, sebelum Maghrib aku berhasil tiba di kemah yang dimaksudkan oleh beliau. Orang-orang yang berada di kemah itu mengajakku masuk ke dalam dan mereka menjamuku dengan ramah. Setelah itu, mereka menunjukkan jalan kepadaku untuk dapat menyusul kafilah.”
Mungkinkah Berusia Sepanjang Itu?
Pada dasarnya, ilmu pengetahuan—seperti Fisiologi—menegaskan ihwal raga manusia yang tersusun dari miliaran sel. Dengan berlalunya waktu, sel-sel tersebut menjadi tua, usang, lalu punah, digantikan oleh sel-sel yang lebih muda. Demikianlah bagaimana daur kehidupan berputar.
Sesuatu yang menjadikan manusia menjadi usang, menghentikan sel-sel itu dari aktifitasnya, dan dapat membawa kematian kepada manusia adalah bakteri dan virus yang berbahaya yang menerobos masuk ke dalam raga manusia dengan berbagai cara dan menyerang sel-sel aktif itu, lalu membinasakannya.
Ilmu Kedokteran (pencegahan dan pengobatan penyakit) merupakan bukti yang kuat, bahwa jika manusia menguasai ilmu pengetahuan dengan sempurna, mengenal dengan baik keadaan tubuhnya dan zat-zat yang berbahaya, merawat kesehatannya dan teliti dalam memilih makanan, maka hidupnya di dunia ini akan berlangsung lama. Ia tidak akan segera mengalami ketuaan.
Dalam pandangan para ilmuwan, mereka telah mampu memperpanjang kehidupan beberapa hewan melalui beberapa eksperimen. Dengan cara seperti ini dan berkat manfaat ilmu pengetahuan yang semakin menyebar dan menerapkan pola dan aturan kesahatan yang ketat, manusia dapat hidup lebih lama hingga beberapa abad.
Seorang ilmuwan telah sekian tahun berusaha mencari dan menyingkap tirai ilmu pengetahuan, untuk sekedar mengenal sekelumit dari rahasianya. Akan tetapi, Imam Mahdi ajf menerima anugerah seluruh khazanah ilmu pengetahuan itu. Dengan anugerah Ilahi itulah beliau tidak kesulitan untuk melintasi jalan-jalan yang ditempuh oleh para ilmuwan tersebut.
Dengan cara seperti ini, tidak akan menjadi mustahil—dari sudut pandang ilmu pengetahuan—bahwa Imam Mahdi ajf dengan keluasan ilmu yang diberikan Allah SWT kepadanya, dapat menjalani hidupnya untuk ratusan tahun dengan tetap sehat dan muda. Ketuaan dan kerentaan tidak berlaku padanya.
Di sisi lain, usia panjang Imam Mahdi tidak begitu ajaib daripada dipadamkannya api Namrud oleh Nabi Ibrahim as, dibelahnya sungai Nil oleh Nabi Musa as dan diubahnya beberapa orang menjadi ular. Semua itu menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah SWT.
Berkenaan dengan masalah ini, Al-Qur’an dan sejarah umat manusia memberikan teladan dan contoh beberapa nabi yang berusia panjang, dan juga termasuk orang-orang biasa. Sebagai contoh, Nabi Nuh as yang telah hidup selama 950 tahun, atau Lukman as yang telah hidup selama 400 tahun.
Demikian juga Bukht Nashr mampu hidup selama 1507 tahun, Nabi Sulaiman selama 712 tahun, dan Raja India, Firoze Rai selama 537 tahun.
Fakta-fakta yang tersebut di atas tadi merupakan bukti bahwa lamanya hidup seseorang di dunia tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Dan ini bisa saja terjadi di setiap zaman.
Bagaimana Imam Al-Mahdi Mengungguli Kekuatan Dunia?
Ketika para pemikir dan orang-orang pintar dunia sibuk dalam perlombaan senjata-senjata pemusnah massal, tampaknya tidak ada tanda-tanda perdamaian. Dunia ini tetap saja membara dengan peperangan dan ketidakadilan. Kutub-kutub kekuatan dunia terus berambisi untuk meluaskan kekuasaan dan wilayahnya melalui campur tangan perang.
Dengan keadaan dan kondisi yang menguatirkan dan mengenaskan ini, kerusakan semakin merejalela dalam kehidupan umat manusia, dan dosa serta kejahatan terus meluas.
Dalam keadaan seperti ini, medan penyambutan sebuah pemerintahan yang adil dan bebas dari perang serta agresi akan menjadi kenyataan. Seluruh bangsa-bangsa akan merasa jenuh dan muak dengan kezaliman pemerintahan mereka yang hanya memikirkan pengembangan kejahatan dan ketidakadilan yang membuat dunia runtuh. Persis sebagaimana kemunculan bintang cerlang Islam di daerah Hijaz, pun demikian setelah lima abad dalam kubangan tirani Jahiliyyah, adalah sebuah medan yang patut dipersiapkan untuk menyambut kemunculan Nabi Islam Muhammad saw.
Masyarakat yang teraniaya bersiap-siap menerima Islam dan panggilan Tauhid Allah serta Keadilan Nabi saw. Sekelompok manusia menerima Islam sebagai panji pergerakan mereka.
Jika kita amati revolusi-revolusi yang meletus di seluruh dunia, kita temukan bahwa keberhasilan para pemimpin mengusung sebuah revolusi adalah landasanguna mewujudkan medan dalam sebuah masyarakat yang menumbuhkan kekecewaan dan kebencian besar mereka terhadap para penguasa zalim akibat pemerintahan mereka yang tidak adil. Medan semacam ini akan mengantarkan para pemimpin sampai kepada tampuk kekuasaan.
Berdasarkan keyakinan itu, revolusi Imam Mahdi akan terlaksana secara alami, yang seiring dengan munculnya medan yang siap dan memadai di tengah masyarakat. Karena, revolusi agung Imam Mahdi akan bersifat global dan tidak terbatas pada suatu tempat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat dunia harus bersedia untuk menyongsong revolusi agung itu di tengah keadaan mereka saat itu sesuai dengan apa yang disingkapkan oleh Rasulullah saw, “Kekejaman, kedurjanaan, dan kerusakan akan merajalela di seluruh dunia.”
Tekanan yang hebat dari pemerintahan zalim akan membuat bangsa-bangsa menjadi hulu ledak yang besar, sehingga mereka akan saling bahu-membahu menghadapinya. Dan masyarakat yang selama ini diperlakukan secara tidak adil dan tidak beradab akan memenuhi panggilan nurani mereka. Ibarat buah yang matang di pohonnya, akan jatuh ke tanah hanya dengan sedikit goyangan.
Dalam kondisi seperti ini, seluruh kekuatan dunia, betapapun mereka dilengkapi dengan persenjataan militer yang canggih, tidak akan dapat membendung dan menghentikan kebangkitan dan revolusi agung ini, meskipun dengan cara pembantaian massal.
Pada saat dunia menghadapi kekalahan dan kelesuan jiwa, mereka membutuhkan seorang pemimpin yang luar biasa. Yaitu, seorang pemimpin yang lengkap dengan pengetahuan, kesadaran sejarah, mengenal seluruh tingkat kebudayaan manusia dengan baik, dan bergaul aktif secara langsung, serta sanggup mengamati secara cermat akan perubahan-perubahan sejarah dan seluruh kejahatan-kejahatan di masa lampau.
Dialah yang menjadi hujjah dan penegak amanah Ilahi yang menyerukan janji keadilan dan kemanusiaan di bumi, menghimpun orang-orang yang tertindas di seluruh dunia untuk meruntuhkan pemerintahan-pemerintahan penindas. Daripada meluangkan tenaga demi pemusnahan dan penghancuran satu sama lainnya, mereka menggalang persatuan secara menata, sehingga mendapatkan tenaga dan sumber-sumbernya demi kemakmuran dan kesejahteraan satu sama lainnya.
Dialah Imam Al-Mahdi ajf yang akan mewujudkan sebuah dunia yang bebas dari rasa takut, cemas dan memenuhinya dengan berkat dan rahmat.
Read More

MY BANNER

 
copy right © MU'ALIM TIM SAR