sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dhadi cubo "memayu hayuning bawono"
.....:::::Di blog MU'ALIM banyak trik yang sangat menarik dan gampang untuk di pelajari, apabila ada kesulitan tanyakan saja pada MU'ALIM . Terima kasih::::....


.

MU'ALIM LOVE WINDA FOREVER
Blogger newbie yang masih belajar tentang CSS dan HTML. Kadang suka ngutak ngatik HTML sendiri. Walau gagal, tetep coba dan gak mau menyerah sampai bisa.
Blogger yang satu ini bukan master, jadi jangan nanya yang macem sama dia.
Avenged Sevenfold, Linkin Park, Muse, Big Bang, Chris Brown dan Suigetsu Hozuki jadi favoritnya.
Jangan lupa Add Facebook Blogger ini, Follow Twitternya juga, dan ini :Deezclan Komunitas orang kreatif.
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Humor Busway

0 komentar

Sudah lama gak posting yang lucu lucu yuk refresing sebentar tinggalkan kepenatan ikutin si Parto yang sedang naik Busway…
Parto sedang naik busway dan duduk disebelah ibu muda yang cantik dan sexy.
Kebetulan ibu muda itu tersebut sedang menggendong anaknya yang baru berumur kira kira 5 bulan.
Tiba tiba sang anak merengek, nampaknya lagi rewel.
Sang ibu seksi cepat tanggap  mulai hendak menyusui bayinya.
Tapi ketika si ibu muda hendak menyusui, si bayi menolaknya..
Si ibu seksi berkata ” ayo sayang diminum, entar mama kasih sama om yg disebelah loh”…
Sepuluh menit kemudian sang bayi masih saja tidak mau minum asi.
Si ibu cantik membujuk lagi “ayo dong sayang diminum susunya… nanti mama kasih om yg disebelah beneran loh…”
Tiba tiba  Si Parto yang dari tadi disebelahnya bicara kepada si ibu muda dan seksi ” Dengar ya mbak..tolong mbak cepat ambil keputusan.. Saya mestinya sudah turun di 3 halte sebelumnya..”

He he he nunggu bagian juga si parto…
Read More

Humor : Tak bisa tidur tanpa sarung

0 komentar

Pada suatu malam , Langit tampak mulai mendung, seperti biasa tiap malam minggu Adi  Apel kerumah pacarnya, yang jaraknya tidak seberapa jauh dari rumahnya.
Namun ketika asyik mengobrol hujan turun dengan deras. Adi mulai terlihat panik karena khawatir hujan tak akan reda sampai malam.
Melihat kekhawatiran Adi tadi sang calon ibu mertua  berkata : “sudahlah nak Adi menginap saja disini. kalaupun pulang kerumah nanti bisa basah karena hujan.”
Dengan tersipu Adi berusaha menolak tawaran dari ibu sang pacar. “Ah tidak usah bu, nanti malah merepotkan.”
“Tidak kok, nak Adi bisa tidur di kamar tamu yang ada.” jawab si ibu sambil masuk ke kamarnya.
Melihat Adi mengangguk tanda setuju, si pacar berinisiatif membuatkan minuman hangat. maka ia segera pergi ke dapur sebentar.
namun ketika sang pacar kembali dengan membawa secangkir minuman hangat tidak didapati Adi berada diruang tamu.
Tidak seberapa lama muncullah Adi dari balik pintu depan dengan pakaian basah kuyup sambil membawa kain sarung…sambil berkata:
“Maaf dik aku tadi pulang dulu sebentar ambil sarung ini sebab aku tidak bisa tidur kalau tidak pakai sarung kesayanganku ini..”
Read More

Cerita lucu : Barisan Suami takut Istri

0 komentar

Pada suatu waktu seorang komandan dari sebuah pasukan yang anggotanya semua sudah menikah, berusaha menyeleksi siapa saja dari pasukannya yang punya kebiasan Takut sama Istrinya.
Komandan tersebut berkata: “Coba pasukan bentuk dua barisan, satu barisan untuk suami yang mendominasi istrinya, dan satu baris lagi untuk suami yang di-dominasi oleh istri.
Setelah beberapa saat, komandan  memeriksa barisan dan melihat hanya ada satu suami yang berada pada barisan “suami yang mendominasi istri’, yang lainnya berada dalam barisan “suami yang didominasi istri”.
Melihat itu, marahlah komandan: “Aku sangat kecewa melihatnya, bukankah suami diciptakan untuk menjadi pemimpin istrinya, bukan sebaliknya? Lihat pria ini, kalian harus mencontoh pria satu ini!”, sambung komandan, “Kau membuatku bangga, katakan bagaimana cara hidupmu sehingga hanya engkau yang berada di barisan ini.”
Pria itu berkata: “Nggak tahu, tadi saya disuruh  istri saya berdiri di sini, nggak boleh ke mana-mana.”
:ngakak
Read More

Cerita lucu : Anak Sekolah

0 komentar

M=Magnet, M=Mama

Seorang guru sedang mencoba menjelaskan kepada anak-anak kelas dua SD mengenai magnet. Dia memperlihatkan kepada mereka bagaimana magnet bisa mengangkat benda-benda besi berukuran kecil ataupun besar.
Sekarang adalah waktunya bertanya dan dia bertanya kepada seluruh kelas, “Namaku dimulai dengan huruf ‘M’ dan aku bisa mengambil apapun. Apakah aku?”
Seorang murid lelaki yang duduk di paling depan langsung memandang gurunya dengan mata berbinar dan sepertinya dia tahu jawabannya. Dengan lantang dia menjawab, “Jawabannya … MAMA!” :matabelo


Belum mengerjakan PR
Waktu pelajaran akan berlangsung, Adi mengacungkan tangannya tanda ingin bertanya,
Guru : Ya, apa yang ingin kau tanyakan, Adi?
Adi : Begini pak, apakah orang bisa dihukum untuk sesuatu yang belum diperbuatnya?
Guru : Oh, tentu saja tidak, Adi. Orang hanya boleh dihukum untuk perbuatan yang
telah diperbuatnya.
Adi : Syukurlah kalau begitu Pak. Saya belum membuat PR.
Guru : ?????? :bingung
Read More

Cerita humor : Oleh oleh si Poltak

0 komentar

Poltak yang sudah 15 tahun di Jakarta akan pulang kampung.
2 hari sebelum tanggal pulang Poltak nelepon ke adik adiknya.
Poltak: “Ucok, mau abang bawain apa kalo abang pulang kampung?”
Ucok: “HP Black Berry aja, bang, bisa? ”
Poltak: “Aaakkh…, gampang itu, nanti abang bawain…!”
Poltak: “Kau Brojong, mau apa dari abang?”
Borjong: “Yang bener, bang?”
Poltak: “Betul! Mau apa?”
Borjong: “Kamera dijital, ajalah bang, macem punya si Togar itu….!”
Poltak: “Mana Butet? Mau aku bawakan apa dia?”
Butet:”Tak usahlah bang.”
Poltak: “Tak usah sungkan, kau bilang aja apa yang kau mau.”
Butet: “Anu, bang. Aku mau dibawain BH ajalah…”
Poltak: “Aaakkhh.., pening lah aabang kau buat, Tet. Yang gampang2 ajalah macam titipan Ucok sm Bronjong itu.”
Butet: “Wah, banyak kali uang abang, ya?”
Poltak: “Bukan begitu, Tet. Kalo BH susah abang nyopetnya. Ga mungkin abang rogoh2 tetek orang…!”
Read More

Cerita humor : Kisah laki laki lugu masuk cafe

0 komentar

Seorang lelaki lugu dari desa memasuki sebuah cafe. Dilihatnya seorang perempuan yang sangat cantik duduk sendirian. Lelaki tersebut mendekatinya dan menyapanya,
“Halo, aku traktir ya. Mau gak?”
“Boleh saja,” jawab si wanita, “Tapi jangan mengharapkan apa-apa ya,” lanjutnya.
“Lho kenapa?” tanya si lelaki lugu .
“Karena aku lesbian,” jawab si perempuan.
“Apa? Kamu orang lesbian?” :bingung
“Kamu tidak tahu lesbian itu apa?”
Si lelaki lugu  menggeleng.
“Begini,” si perempuan berusaha menerangkan, “Kamu lihat perempuan manis di seberang sana? Aku akan berkencan dengannya, menciuminya dan bercinta dengannya sepanjang malam.”
Si lelaki tersebut tiba-tiba menundukkan kepala terlihat malu. :matabelo
“Kamu kenapa?” tanya si wanita  lesbian.
Si lelaki mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya Tuhan, kayaknya aku lesbian juga.”
Read More

Cerita Humor : Kencing dicelana

0 komentar
Udin bertemu sahabat lamanya,  Anton mereka sedang asyik ngobrol bercerita.
Udin    : Hari ini saya hampir mati diterkam anjing Ton,…
Anton : Loh kenapa?
Udin    : Iya rupanya ada anjing  jenis Herder lepas dari rumah majikannya .
Anton : Terus
Udin     : Aku tadinya cuma mau usir … saya lempar pakai batu, gak taunya anjingnya marah terus aku dikejar.
Anton  : Terus kamu lari ..?
Udin    : Ya .. aku lari secepat mungkin..,
Anton : Terus
Udin    : Ya untungnya anjing yang mengejar saya kepleset terjatuh,  sehingga saya sempat naik pohon untuk menyelamatkan diri.
Anton : Wuihh Serem amat Din…., Tapi saya ajungi jempol  kamu Din…  :thumbup Hebat…, Kalau saya yang dikejar bisa kencing dicelana …
Udin    : Iya sama,  saya juga,  Kamu kira anjing kepleset itu karena apa ?
Anton :  :bingung
Read More

Humor Surabaya 3

0 komentar
Piro umurku ?
Mat Penceng umure wis atene 45 taun. Awake sik gagah otote dempal,
cumak sayange dapure mulai kisut ireng kabeh.
Pas ulang taunan sing 45, Mat Penceng kepingin kethok enom maneh.
Akhire Mat Penceng nekat mecah celengan bojone digawe ongkos operasi
plastik.
Tibake gak rugi mecah celengan, soale dapure Mat Penceng saiki malih
resik, putih lan ketok enom maneh. Mat Penceng bungah atine, ben
ketemu wong wedhok dikongkon mbedhek piro umure.
Pertama pas nang pasar atom onok ibu-ibu tuku kain.
“Ning, ayo bedhe’en piro umurku ?” takok Mat Penceng ambek mesam-
mesem.
“Paling sik selawe . . .” jare ibu-ibu iku ambek ngematno dapure Mat
Penceng.
“Salah Ning, umurku sakjane wis 45″ jare Mat Penceng bangga.
Ibu-ibu iku gak percoyo, akhire Mat Penceng ngetokno KTPne.
Mari ngono Mat Penceng ngenteni buyarane arek SMA.
Pas onok cewek-cewek liwat, Mat Penceng mbedhe’i maneh nang arek-
arek iku piro umure.
Onok sing mbedhek 25, 28, 24, paling banter onok sing mbedhek 31 taun.
Gak onok sing isok titis mbedhek 45. Bareng dikandani lek umure iku 45
gak onok sing percoyo, bareng didhudhuhno KTPne dhadhak semburat
kuabeh.
Mat Penceng malih tambah bangga mergo dapure tambah ngguanteng.
Pokoke ben pethuk wong wedhok mesti dibedhe’i umure, tapi gak onok
sing bener.
Pas dulin nang Delta Plasa, Mat Penceng antri pesen mangan nang
McDonald. Bareng oleh giliran, Mat Penceng ditakoni pelayane arep pesen
opo.
“Sik mbak, sak durunge aku pesen, ayo bedhe’en piro se umurku?” jare
Mat Penceng.
“Kiro-kiro 27 mas” jare pelayane.
“Salah mbak, umurku 45″ jare Mat Penceng.
Mari lego nggarai, akhire Mat Penceng pesen panganan.
Lha pas arep mulih, nang parkiran Mat Penceng pethuk ambek nenek-
nenek arep mlebu montor.
Mergo durung tau mbedhe’i wong tuwek, akhire Mat Penceng nekat
nguber terus takok.
“Sepurane yo mbah uti, aku kepuingin mbedhe’i sampeyan kiro-kiro piro
umurku mbah?” jare Mat Penceng.
“Ngger putuku, ojoko kiro-kiro, masio aku wis tuwek elek koyok ngene,
aku isok mbedhek persis piro umurmu.” jare simbah mau.
“Iyo tah, piro se umurku?” takok Mat Penceng penasaran.
“Wah tapi onok sarate” jare simbah mau.
“Opo sarate mbah ?” Mat Penceng tambah penasaran.
“Sarate iku, awakmu kudhu culno klambimu kabeh sak kampese pisan
wudho blejet, terus mlayu muteri parkiran iki limang putaran. Lek wis
mari, lagek aku isok mbedhek umurmu.” jare simbah iku mau.
Mat Penceng ngengkel cik angele sarate, tapi simbahe ngotot lan ngan-
cam lek gak gelem yo wis ditinggal mulih. Mergo penasaran lagek onok
wong sithok iki sing ngaku isok mbedhek umure, akhire Mat Penceng nu-
ruti sarate. Mari nitipno klambi nang simbah iku, Mat Penceng mlayu
wudho muteri parkiran montor. Lagek oleh rong putaran, Mat Penceng
wis mbalik nang simbah iku ambek bengok-bengok njaluk tulung.
“Mbah, tulung mbah !!!, aku diuber-uber satpam dikiro wong gendeng.
Ayo cepetan bedhe’en umurku piro selak satpame teko !!”jare Mat Penceng
ambek menggos-menggos gupuh kabeh.
Mari nguncalno kampese Mat Penceng, simbah iku mau ngomong,”Le,
aku weruh umurmu iku saiki 45″.
Mat Penceng kuaget sampek lali kampesan, kok onok wong sik isok
mbedhek umure.
“Mbah, aku sik penasaran, mek sampeyan thok sing mbedhek umurku,
opo rahasiane mbah?” takok Mat Penceng gak sabar.
“Ngene lho Le, aku mau persis nang mburimu pas antri nang McDonald
. . .”
Bakso Spanyol
Bunali ngelencer nang Spanyol kepingin ndelok matador.
Mari mlaku-mlaku, wetenge luwe terus mampir nang restoran.
Mergo menune kuabeh nganggo bahasa Spanyol, Bunali malih bingung.
Akhire Bunali takok nang pelayane opo menu sing paling special.
Ambek pelayane Bunali ditawari bakso spanyol, Bunali setuju.
Pas panganane teko, tibake penthol bakso mek loro dihias godhong tales.
Mergo luwe, penthol loro iku diunthal sak emplokan, tibake bakso spanyol
yo enak pisan pikire.
Mari mangan, Bunali takok nang pelayane “Daging opo iku mau, kok
enak baksone?”
Pelayane ngomong lek iku ngono bijine sapi sing matek kalah tarung
ambek matador.
Pertama Bunali kudhu muntah pas krungu, tapi mergo enak yo wis gak
opo-opo.
Cumak Bunali kuaget pas mbayar tibake regone luarang, untunge san-
gune nang kesak sik cukup.
Sisuke Bunali teko maneh nang restoran iku maneh katene pesen bakso
special koyok wingi.
Mergo nggondhok, sak durunge budhal, Bunali nyeblek kecoak terus
disaki.
Pas panganane teko, tibake penthole saiki rodhok cilik. Gak opo-opo
wis, sing penting enak.
Mari mangan, Bunali ngetokno kecoak ambek bengok-bengok.
“Aku gak gelem mbayar, lha mosok baksone onok kecoake” jare Bunali.
Pelayane akhire ngalah, Bunali gak perlu mbayar. Bunali sueneng akale
berhasil.
Pas katene mulih, Bunali protes maneh nang pelayane opoko kok pent-
hole saiki rodho cilik gak koyok wingi.
Pelayane cerito lek dino iki sing kalah matadore.
Balas Dendam
Wonokairun mlaku mlaku nang TP ijenan katene mejeng, dandane mbois
gak gelem kalah ambek ABG. Pas katene mulih dhadhak dirampok nang
parkiran.
Kuabeh amblas, bronpit disikat, dompet amblas, klambi diplorot kari
kampesan thok.
Wonokairun ngguondhok pol, toleh-toleh mbrebes mili nang tengah em-
bong.
Wonokairun nyobak nyegat taksi, ambek njelasno lek mari dirampok.
Wonokairun janji mbayar taksine nang omah.
Tibake supir taksine iku gak percoyo, sombong poll, gak gelem nolong
blas malah ngilokno.
“Asline wong mbambung ae athik aksi ethok-ethok dirampok ! “jare
supir taksine nang ngarepe wong akeh.
Wonokairun loro atine di isin-isin koyok ngono.
Wonokairun akhire terpaksa mlaku mulih nang Sepanjang buntelan ko-
ran.
Cumak yo ngono, Wonokairun dendam pol nang supir taksi iku mau,
pokoke ditengeri wonge lemu ireng kopiahan.
Aku kudhu isok mbales ngisin-ngisin wong elek iki, pikire Wonokairun.
Minggu ngarepe, Wonokairun dulin nang TP ijenan maneh. Mari wis
tuwuk dulin, akhire Wonokairun mulih.
Pas metu TP, akeh taksi sing antri golek penumpang.
Wonokairun sengojo golek supir taksi sing minggu wingi nglarakno ati,
katene balas dendam.
Diurut mulai sing paling ngarep, Wonokairun nakoni supir taksine sithok-
sithok.
“Cak, nang Sepanjang piro” takok Wonokairun.
“Biasa mbah, borongan ae seket ewu” jare supir taksine.
“Mari ngeterno, tak sodomi yo, ojok khawatir ongkose tak tambahi ?”
takok Wonokairun maneh.
“Wok nggilani !!!, Koen kiro aku iki homo tah mbah. Masio elek, aku
iki wong lanang normal mbah, goleko sing liyane ae !” jare supir taksi iku
ambek misuh-misuh tersinggung.
Kuabeh supir taksi sing dijak kencan jawabe podho kabeh ambek misuh-
misuh gak karuan, tapi Wonokairun cuek ae.
Sampek taksi sing paling mburi, akhire Wonokairun ketemu supir taksi
lemu ireng kopiahan sing digoleki.
Koyoke supir taksine iku wis lali ambek Wonokairun.
“Cak, nang Sepanjang piro?” Wonokairun aksi takok.
“Biasa ae mbah, seket ewu. ” jare supir taksine.
“Yo wis, ayok ndhang budhal.”Wonokairun langsung numpak terus bud-
hal, Wonokairun sempet ngelirik kartu pengenale tibake jenenge Markun.
Mergo paling mburi, terpaksa supir taksine iku bengok-bengok ngongkon
konco-koncone sing nang ngarep minggir sithik cik isok lewat.
Bareng wis mlaku, Wonokairun dadah-dadah nang supir-supir taksi iku,
mesam-mesem ambek ngomong “Eenaaak teennaann . . .”
Konco-konco supir taksi sing ndhelok Markun malih bingung kuabeh
gilo kudhu mukok . . .
Apes
Gempil lagi ngejak pacare ngelencer numpak montor bengi-bengi.
Pas sampek Pacet, pacare njaluk indehoi nang njero montor.
Pertamane Gempil isin soale wedhi konangan wong kampung, tapi mergo
pacare giras, akhire Gempil nyerah.
Wis mari oleh rong ronde, pacare sik njaluk maneh. Gempil sampek
gelagepen ampun-ampun gak kuat maneh.
Gempil njaluk time-out metu montor dhiluk apene rokokan.
Pas katene nyumet rokok, sekok kadhoan Gempil ndhelok onok wong
lagi ndongkrak ganti ban bocor.
Bareng dicedaki, tibake koncone dhewe, Muntiyadi, wah ketepakan iki
pikire Gempil.
“He Mun !, laopo koen bengi-bengi athik kluyuran nang kene” takok
Gempil.
“Lho awakmu Pil, pancen aku lagi apes bengi iki, katene golek gendakan
gak oleh-oleh malah banku bocor pisan” jare Muntiyadi.
“Wah ketepakan lek ngono, aku wis oleh gendakan, ayu semlohe, cumak
girase gak ketulungan, wis oleh rong ronde sik njaluk maneh, sampek teler
aku.
Wis ngene ae, yok opo lek ijol-ijolan ae, montormu tak genti bane terus
tak gowo mulih, lha awakmu gendakan ae ambek cewek nang montorku
iku, montorku gowoen pisan. ” jare Gempil.
“Wah tepak wis, sip !!! ” jare Muntiyadi sueneng pol. Gempil yo lego
isok mulih.
Sik tas ae Muntiyadi katene mulai gendakan ambek cewek peninggalane
Gempil, moro-moro onok wong kampung siskamling nggedhor kocone mon-
tor ambek nyentolopi raine wong loro.
“He !!! Lagi opo awakmu nang kono ? “takok wong kampung mbentak
Muntiyadi.
“Anu Pak . . aku lagi gendakan ambek bojoku dhewe jenenge Romlah.
.” jare Muntiyadi gemeter.
“Lek iku bojomu, laopo gak gendakan nang omahmu dhewe ?”jare wong
kampung maneh.
“Anu Pak, sak jane aku lagek weruh lek iki bojoku dhewe pas sampeyan
nyentolopi raine . . .” jare Muntiyadi.
Umur
Wonokairun lagi ngobrol soal umur ambek koncone sing podho kewute.
Wak So sing umure 60 taun mulai cerito, “Paling gak uenak iku lek
wis umur sewidhak. Ben obah sithik kebelet pipis, tapi bareng wis nang
jedhing sampek sepuluh menit gak metu blas, mek anyang-anyangen thok.”
Wak Nyo sing umure 70 taun gak gelem kalah, “Lho durung weruh kon
yo, paling gak uenak yo lek umur pitung puluh. Mangane kudhu bubur
bayi maneh. Mari ngono, ben arep longgo mesti mules kebelet setor, tapi
bareng wis ndhodhok sampek sepuluh menit gak metu blas, mek kepentut
bolak-balik”
Akhire Wonokairun, sing umure 80 taun, melok ngomong,”Wok kemalan
kabeh, sing paling gak weunak yo umur 80 koyok aku ngene”.
Wak So takok,”Lho peno yo anyang-anyanen koyok aku ngene yo ?”.
“Yo gak se, aku tetep isok pipis lancar ben isuk jam 6.”jare Wonokairun
bangga.
Wak Nyo genti takok,”Sampeyan mesti ngalami mules kepentut-pentut
koyok aku yo ?”
“Sori Rek, aku tetep isok setor lancar ben isuk jam setengah pitu.” jare
Wonokairun bangga.
Wak So ambek Wak Nyo malih bingung lan penasaran,”Sik tah lah, peno
sik isok pipis lancar ben jam 6 isuk, terus peno sik isok setor lancar ben
jam setengah pitu isuk. Lha terus opo sing nggarakno gak uenak lek wis
umur 80 ?”
“Masalae mek sithok, aku sering kerinan, tangiku mesti jam pitu isuk .. .”
Sing tabah yo . . .
Onok napi ucul seko LP Medaeng, Napine iku wis dipenjara 10 taun
perkoro narkoba.
Mergo bingung katene mlayu nang endhi, akhire napi iku mlebu nang
omahe Muntiyadi.
Pas iku Muntiyadi lagi kelonan nang kamar ambek bojone, arek loro iku
kuaget onok wong sangar mlebu nang omahe.
Durung sempet mbengok, napi iku mau wis nyancang Muntiyadi ambek
bojone.
Muntiyadi dicancang nang kursi, lha bojone dicancang nang kasur.
Mari nyancang, Muntiyadi ndhelok napi iku ngelamuti gulune bojone.
Mari ngelamute, moro-moro napi iku ngalih lungo nang jedhing.
Pas napine nang jedhing, Muntiyadi nggeser kursine nyedaki bojone.
“Dhik, wong iku koyoke gak tau ndhelok wong wedhok pirang puluh
taun. Aku ndhelok gulumu mau dikelamuti.
Saiki ngene ae dhik, awakmu nuruto ae opo karepe wong iku. Umpomo
wong iku njaluk main yo wis tak relakno.
Sing penting wong iku ndhang ngalih terus nyowone awake dhewe isok
selamet. Sing tabah yo dhik,” jare Muntiyadi wanti-wanti nang bojone.
Mari mbrebes mili, genti bojone Muntiyadi sing cerito.
“Cak, aku melok seneng lek sampeyan ndhuwe pemikiran koyok ngono.
Sampeyan bener Cak, wong iku wis sui gak tau ndhelok wong wedhok.
Tapi Cak, wong iku sakjane mau gak ngelamuti guluku. Wong iku mau
asline bisik-bisik nang aku”
“Iyo tah dhik, ngomong opo wong iku nang awakmu? takok Muntiyadi
penasaran.
“Jarene, sampeyan iku imut-imut ambek seksi Cak, terus wong iku takok
aku nang endhi nyimpen Handbody. Sing tabah yo Cak. . .”
Lawang Wesi
Wak So lagek pertama kali iki nglencer nang TP ambek anak bojone.
Jenenge wong ndesit, Wak So ambek anak bojone gumun ndhelok sem-
barang kalir sing onok nang TP.
Tapi Wak So sak keluarga iku paling gumun ambek lawang wesi krum-
kruman sing isok buka tutup dhewe, opo maneh isok muning mak tiing !. . .
“Bes, opo iku jenenge . . .” takok Togog anake Wak So pas ndhelok
lawang wesi iku.
“Aku yo gak weruh pisan nak . . .sak umur-umur lagek pisan iki onok
lawang wesi koyok ngene.” jare Wak So.
Akhire Wak So sak keluarga ndoprok nang ngarepe lawang wesi iku
ngematno ambek ndomblong.
Moro-moro onok wong wedhok tuwek sak pantaran bojone Wak So
mencet tombol lawang wesi iku mau.
Mari ngono lawang wesine mbukak, terus wong wedhok tuwek iku mau
mlebu nang ruangan cilik, terus pintune nutup maneh.
Mari muni ting ! . . ., terus onok ongko siji murup, loro, telu sampek
papat mendeg.
Gak sui ongko papat murup maneh, terus telu, loro sampek siji mandeg.
Pas lawang wesine mbukak maneh, Wak So ambek anake kuaget tibake
sing metu iku arek wedhok ABG ayu semlohe.
Wak So bingung ambek kemlecer ngematno arek wedhok iku.
Mari mikir dhiluk, Wak So mbengok nang anake, “Le !. . Ndhang
cepetan Makmu lebokno kono . .”
Nyegat bis
Romlah antri nyegat bis kota katene budhal kerjo.
Pacakane sueksi pol, bengesan abang ambek nganggo rok mini.
Pas katene numpak bis kota, mergo rok minine nguapret pol, sampek
sikile Romlah gak isok mancik munggah bis.
Romlah ngrogoh selerekan nang mburine rok cik rodhok longgar.
Bareng wis didhukno selerekane, sik pancet nguapret ae, sikile Romlah
tetep gak isok mancik munggah bis.
Romlah nyobak pisan ngkas ngedhukno selerekane rok cik tambah longgar.
Tibake sik pancet ngapret ae, sikile Romlah tetep gak isok mancik munggah bis.
Romlah nyobak maneh sampek ping telu, tetep ae gak isok.
Kondekture wis gak sabar bengok-bengok.
Moro-moro onok tangane wong lanang ndhemok bokonge seko mburi,
nyurung Romlah munggah bis.
Romlah mendelik nguamuk nang wong lanang iku,”Semprul !!! Gak
sopan blas peno Cak, wong gak kenal athik wani-wanine ndhemok bokongku
!!”.
Wong lanange nyauri,”Yo sampeyan Ning sing gak sopan, wong gak kenal
athik wani-wanine mlorot selerekan celonoku ping telu.”
Kebon Semongko
Bunali pusing soale ben isuk ndhik kebon semongkone onok tembelek.
Sakjane Bunali weruh lek sing ndhodhok nang kebone ben isuk iku
Wonokairun cumak gak wani nyeneni.
Akhire Bunali masang pengumuman sing tulisane ngene “Ini kebunku,
bukan WCmu !!!”.
Dhadhak tulisane onok sing ngganti ngene “Ini pupukku, untuk ke-
bunmu!!!”
Limolas Juta
Wonokairun lungo nang Tretes mampir nang Wisma Rindu Malam.
Isine wong wedhok ayu-ayu semlohe, sikile mulus-mulus gak onok sing
bubulen.
Wonokairun disambut ambet Mamane wisma.
“Aku pingin pethuk ambek Sablah” ajre Wonokairun.
“Mbah, Sablah iku cewek paling ayu nang kene, taripe yo paling larang.
Sampeyan mesti gak cukup dhuwike, tak golekno sing liyane ae yo . . .”
jare Mamane.
“Aku kudhu pethuk ambek Sablah.” Wonokairun mekso.
Akhire Mamane ngongkon Sablah metu seko petarangan, tibake areke
pancen uayu tenan..
“Mbah, sampeyan wis weruh tah lek taripku iku limang juta sekali book-
ing ?” takok Sablah.
Gathik kakean cangkem, Wonokairun ngetokno dhuwik sak bundhel isine
limang juta.
Mari ngono, Wonokairun digandeng Sablah munggah mlebu arena. Bareng
wis mari diservis, Wonokairun minggat.
Sisuke Wonokairun teko maneh nang Wisma Rindu Malam iku.
“Aku pingin pethuk ambek Sablah” jare Wonokairun.
“Mbah, masio sampeyan wingi wis booking Sablah, taripe pancet lho yo
gak ono diskon” jare Mamane.
“Aku kudhu pethuk ambek Sablah” Wonokairun mekso maneh. Wong
mulai kasak-kusuk ngrasani mbah Wonokairun.
Akhire Mamane nyeluk Sablah.
“Mbah, sampeyan wis weruh tah gak lek taripku pancet limang juta
sekali booking ?” takok Sablah.
Gathik kakean cangkem, Wonokairun ngetokno dhuwik sak bundhel isine
limang juta.
Mari ngono, arek loro iku munggah mlebu arena. Bareng wis mari dis-
ervis, Wonokairun minggat.
Sisuke maneh, Wonokairun teko pisan maneh nang Wisma Rindu Malam.
“Aku pingin pethuk ambek Sablah” jare Wonokairun.
“Mbah, masio sampeyan wingi wis booking ping pindho, taripe Sablah
pancet lho yo gak ono diskon” jare Mamane.
“Aku kudhu pethuk ambek Sablah,” jare Wonokairun. Wong tambah
rame kasak-kusuk ngrasani, tapi mbah Wonokairun cuek ae.
Akhire Mamane nyeluk Sablah.
“Mbah, sampeyan wis weruh tah gak lek tarifku pancet limang juta sekali
booking ?” takok Sablah.
Gathik kakean cangkem, Wonokairun ngetokno dhuwik sak bundhel isine
limang juta.
Mari ngono, arek loro iku munggah mlebu arena.
Bareng wis mari, Sablah penasaran ambek Wonokairun.
“Mbah, sampeyan iku cik lomane ambek aku, sak umur-umur gak ono
wong sing wani mbooking aku lansung ping telu. Seko ndheso endhi sam-
peyan Mbah ?” takok Sablah.
“Aku seko Sepanjang” jare Wonokairun.
“Lho iyo tah !!, aku ndhuwe dulur nang Sepanjang pisan.” jare Sablah
kaget.
“Wis weruh aku. Bapakmu mati sak wulan kepungkur. Mbakyumu
nggoleki awakmu gak ketemu, terus ngongkon aku nggolek awakmu kanggo
nyerahno dhuwik warisan limolas juta . . .”
Putus Cinta
Tatang ambek Wiwik wis oleh nem wulan iki sir-siran.
Ben malem minggu Tatang apel terus ngejak ngelencer, muesra pol
pokoke.
Lek goncengan tangane Wiwik nyabuk nang pinggange Tatang.
Malem minggu iki Tatang apel koyok biasane.
Tapi Tatang gak ngiro lek iki tibake apel sing terakhir, soale Wiwik
njaluk putus.
“Cak rasane aku wis gak cocok maneh ambek sampeyan . .”jare Wiwik.
Masio dirayu-rayu, Wiwik tetep ae njaluk putus, Tatang langsung lemes
pamitan mulih.
Pas arep mulih, Tatang nyaut kaos putih sing semampir nang kursi.
“Kaosmu tak pek gawe kenang-kenangan” jare Tatang.
“Lho ojok cak, iku kaos kotor mari digawe . .” jare Wiwik.
Omongane Wiwik gak dirungokno, Tatang langsung nyengklak bronpit
bablas mulih.
Mari putus, Tatang malih koyok wong liwung. Mangan gak enak, turu
opo maneh.
Masio kuecut pol, ambek Tatang kaose disimpen nang ngisore bantal.
Ben ndhino awane wengi Tatang mbrebes mili ambek ngambungi kaose
mbayangno masa-masa indah.
Sampek seminggu Tatang gak metu kamar blas, sampek ibuke kuatir.
Mari oleh seminggu moro-moro ibuke Tatang nggedor lawange Tatang,
jarene ono tilpun seko Wiwik.
Tatang langsung deg-degan mlayu metu kamar nyaut telpune.
“Halo . .” jare Tatang ndredeg.
“Iki Cak Tatang tah ? . .” jare Wiwik.
“Iyo dik, aku wis ngiro lek akhire awakmu bakal nilpun aku, kuangen
pol aku dik . . .” jare Tatang sik ndredeg.
“Iyo Cak, bapakku ben ndhino yo nakokno sampeyan terus “jare Wiwik.
“Iyo tah, waduh aku gak ngiro lek bapakmu sampek sak mono ambek
aku, opo jare bapakmu ? ” takok Tatang.
“Bapakku ngamuk-ngamuk njaluk kaose dibalekno . .”
Nginceng
Tole, anake Romlah, mlayu menggos-menggos mlebu omah nggoleki ibuke.
“Buuuk . .Ibuuuuk…!!!” jare Tole ambek nungkul ibuke.
“Opoko Le, kon kok koyok diuber celeng . .?” takon Romlah.
“Bu aku mari mergoki Bapak ambek Yuk Jah wong loro . . .” jare Tole
ambek menggos-menggos.
“Sik tak la, alon-alon lek cerito, longgo sing nggenah dhisik ..”jare Rom-
lah ngayemno anake.
“Ngene lho Buk, pas aku dhulin nang omahe Kelik, aku ndhelok Bapak
mlebu nang omahe Yuk Jah.” jare Tole.
“Wis wis Stop ! Stop ! Stop!, ceritone disimpen dhisik ae. Lek Bapakmu
teko, ceritone lagek diterusno. Aku pingin weruh reaksine Bapakmu. “jare
Romlah.
Sorene Muntiyadi mulih wis dienteni Tole ambek Romlah.
“Ayok Le, age ndhang cerito nak” jare Romlah.
“Pas aku dhulinan nang omahe Kelik, moro-moro aku ndhelok Bapake
mlebu nang omahe Yuk Jah. Aku timik-timik nututi Bapake, terus ngin-
ceng seko jendelo. Aku ndhelok Bapak terus sayang-sayangan ambek Yuk
Jah. Mari ngono aku …. wis gak wis aku gak wani nerusno . .” jare Tole.
Romlah penasaran, Muntiyadi gemeter tegang.
“Ojok wedhi ambek Bapakmu, ayo age terus no. Mari ngono Bapakmu
lapo ambek Yuk Jah !!” Romlah mekso anake.
Mari dipekso-pekso akhire Tole nerusno ceritone
“Mari ngono Bapak ambek Yuk Jah dulinan jaran-jaranan koyok . . .
koyok . . .” Tole mandeg maneh gak wani ngomong.
“Lho ayo terusno ojok wedhi, koyok opo ayo sing jelas” Romlah mbentak
anake maneh.
Akhire Tole wani nerusno maneh.
“Koyok Ibu ambek om Gempil mbiyen . . .”
Deodorant
Romlah mampir nang toko katene tuku deodorant.
“Cak, aku arep tuku deodorant gawe “bagian bawah”,” jare Romlah am-
bek ndhudhing anune.
Sing ndhuwe toko bingung lha mosok onok deodorant gae “bagian bawah”.
“Sepurane yo ning, gak onok deodorant sing kanggo bagian bawah.” jare
sing dhodhol.
“Yok opo se peno iku, wong aku sering tuku kok !” jare Romlah muring-
muring.
“Lho sampeyan onok contone tah ?” jare sing dhodhol.
“Yo!. Iki lho barange.”jare Romlah ambek ndhudhuhno wadahe deodor-
ant kosong.
Sing dhodhol kudhu ngguyu tapi dimpet.
“Ning !! Iki ngono deodorant biasa sing kanggo kelek”jare sing dhodhol.
Romlah tersinggung diguyu-guyu.
“Lho peno iku sing ngengkel ae, woconen tah tulisane iku.” jare Romlah
ambek njentit ngangkat roke sampek “bagian bawah”e kethok.
Bareng sing dhodhol moco, tibake tulisane ngene “Untuk pemakaian,
tekan bagian bawah”
Ngelindur
Muntiyadi turu ngeloni Romlah, bojone. Pas enak-enak turu, Romlah
dhadhak ngelindur celuk-celuk pacare.
“Mas Gempil . . . aku kangen mas. Mas Gempil peluklah aku mas . .
.”
Krungu ngono Muntiyadi malih cemburu ngamuk-ngamuk gak karuan,
Romlah langsung diseret lang jedhing.
“Hayo ngomongo !!! Awakmu pingin pethuk ambek Gempil tah ???!!!,”
jare Muntiyadi mbentak bojone.
“Iyo cak . . . ” jare Romlah.
Langsung sirahe Romlah didelepno nang banyune bak mandi, cik kapok
pikire Muntiyadi.
Mari oleh sak menit Romlah gelagepen, ambek Muntiyadi sirahe di-
angkat terus ditakoni maneh.
“Wis saiki ngomongo maneh !!! Awakmu sik pingin pethuk ambek Gem-
pil tah ???!!!,” jare Muntiyadi maneh.
“Iyo cak . . .” jare Romlah.
Langsung sirahe Romlah didelep nang bak mandi luwih sui maneh, sik
gak kapok ae arek iki pikire Muntiyadi.
Mari oleh rong menit Romlah gelagepen, ambek Muntiyadi sirahe di-
angkat terus ditakoni maneh.
“Hayo ngomongo maneh !!! Awakmu sik pingin pethuk ambek Gempil
tah ???!!!,” jare Muntiyadi maneh.
“Iyo cak . . .” jare Romlah.
Muntiyadi tambah muntap. Pas arep didelepno nang banyu maneh,
Romlah berontak terus takon nang Muntiyadi.
“Sik tah cak, sampeyan yakin tah lek mas Gempil onok nang njero banyu?”
Putus Asa
Sore-sore Muntiyadi jagongan ngelamun nang warung, pandangane kosong
ambek tangane ngudek es teh.
Moro-moro Paidi, koncone, teko ngageti terus langsung nyaut ngombene
Muntiyadi diglogok sampek enthek, karepe ngono ngejak guyon.
Muntiyadi nuangis gerung-gerung, koncone malih gupuh kabeh.
“Wok!! Kon iku jarene tentara tapi kok cik gembenge, ngombemu tak
saut ae wis nangis,” jare Paidi.
“Sak dino iku apes thok uripku.” jare Muntiyadi.
“Lho opoko, mbok menowo aku isok nulungi,” jare Paidi sakno.
“Isuk mau, aku dipecat mergo ngilangno bedhile komandan,”jare Muntiyadi.
“Walah ngono ae lho, laopo se dipikir. Awakmu lak demphal tah, dadi
bodyguard utowo preman pasar sik payu,” jare Paidi.
“Iku sik gak sepiro. Mari dipecat, aku mulih gasik. Pas sampek omah,
dhadhak aku mergoki bojoku lagi indehoi ambek koncoku,”jare Muntiyadi.
“Wis gak usah dipikir. Bojomu lak pancen ngono kelakuane, pegaten
ae, wong wedhok sik uakeh sing tahes komes,” jare Paidi.
“Iku sik gak sepiro. Aku wis putus asa, katene bunuh diri ae. Aku tuku
potas terus tak campur es teh, bareng arep tak ombe dhadhak kon saut
pisan,”
Malam Pertama
Cak Mar sik tas rabi, lenger-lenger nang pos hansip koyok wong liwung.
Gak sui Cak So liwat.
“Mar, kon iku manten anyar gak tambah seger lha kok malah lungset
nyaprut. Opoko kon iku Mar ?” takok Cak So.
“Iyo Cak, aku kepikiran bojoku.” jare Cak Mar.
“Opoko bojomu iku, wong tak dhelok bojomu iku tahes ngono lho.” jare
Cak So.
“Ngene lho Cak. Aku iki biasa njajan. Lha pas mari main malam
pertama wingi, aku ngetokno dhuwik seketan. Pikirku, arek wedhok sing
bodine koyok ngene paling banter taripe seket ewu. Aku luali pol lek tibake
iku bojoku dhewe.” jare Cak Mar.
“Kon yo ngawur ae. Tapi wis gak usah dipikir nemen-nemen, paling
bojomu tersinggung sedhiluk terus mari ngono yo kangen ambek peno
maneh.”
“Aku kepikiran gak perkoro wedhi bojoku tersinggung ” jare Cak Mar.
“Lha opo lho masalae ?” Cak So malih bingung.
“Mari tak ke’i seket ewu, dhadhak aku disusuki selawe.”
Foto
Mari kencan ambek pacare, Cak War kepingin rokokan.
Mari rogoh-rogoh celono, Cak War gak nemu koreke, terus takok pacare
be’e ndhuwe korek.
“Koreke nang laci Cak. ” jare pacare Cak War.
Pas mbukak laci, tibake Cak War ndhelok onok fotone wong lanang
dhempal brengosan.
Cak War langsung pucet wedhi kabeh.
“Lho dik, iki bojomu tah ? Cik sangare dik.” Cak War takon nang
pacare.
“Huss . .ngawur ae . .” jare pacare.
“Tunanganmu tah . . ?” Cak War sik penasaran.
“Dhudhuk Cak, peno salah ” jare pacare ambek ngalem nang Cak War.
“Ooo paling iki masmu, wong irunge mirip.” Cak War mbedhek maneh.
“Dhudhuk Cak, peno salah maneh. ” jare pacare.
“Lek ngono sopo wong iki ?” Cak War tambah penasaran.
Pacare njaluk pangku ambek ngalem mari ngono lagek ngaku.
“Iku ngono fotoku dhewe sak durunge operasi kelamin . . “
Ulang Tahun
Cak Dri ulang tahun sing ke 40. Atine rodhok sedih soale pas tangi isuk
bojone meneng ae gak ngucapno selamat, koyoke lali.
Pas sarapan kate budhal kerjo, anak-anake yo mbidhek kabeh gak onok
sing eling ulang tahun Bapake.
Cak Dri budhal kerjo ambek ati nelongso.
Bareng nang kantor, Yuk Ni konco kantore nyambut “Pagi Cak Dri.
Selamat Ulang Tahun ya”
Cak Dri atine seneng akhire onok wong sing eling ambek ulang tahune.
“Wah . .pancen kebacut anak bojoku mosok lali ambek ulang tahunku
” pikire Cak Dri.
Pas arep mangan siang, Yuk Ni ngejak metu wong loro.
Pikire Cak Dri, waduh kapan maneh rek oleh tawaran koyok ngene,
ketepakan Cak Dri sui naksir Yuk Ni pisan cumak gak wani ngomong.
“Yok opo lek awake dhewe istirahat nang kos-kosanku Cak ?” jare Yuk
Ni ambek ngalem.
Cak Dri ho-oh ae.
Pas sampek kos-kosan, Yuk Ni ngongkon Cak Dri ngaso dhiluk.
“Cak, anggepen iki omahmu dhewe. Aku tak nang kamar dhiluk, wis
tah pokoke aku onok kejutan gawe sampeyan.” jare Yuk Ni.
Pas ditinggal ijenan, Cak Dri wis mbayangno kejutan seko Yuk Ni, atine
mpot-mpotan gak sabar.
Pikire aku yo isok rek membuat kejutan, akhire Cak Dri nyoplok klam-
bine kuabeh sampek blejet ambek ngenteni Yuk Ni salin.
Cak Dri terus merem mbayangno bodine Yuk Ni ambek wudho kelesetan
nang sofa.
Dhadhak ujug-ujug dumadhakan, Cak Dri kuaget sampek mecitat krungu
onok wong akeh nyanyi selamat ulang tahun.
Bareng Cak Dri melek, tibake Yuk Ni nggowo kue tar ambek anak bojone
Cak Dri metu seko kamar.
Read More

Humor Surabaya 2

0 komentar
Diuber celeng
Sore-sore mari mulih angon, Bunali pethuk ambek Brudin.
“Waras ta !! ” jare Brudin ndhik Bunali.
“Waduh dino iki aku meh mati disruduk celeng ” jare Bunali.
“Lho kok isok ngono, yok opo ceritone ?” jare Brudin.
“Mau awan iku aku pethuk celeng, terus tak garai, tak kileni ambek
pring dhadhak nguamuk. Aku diuber-uber katene disrudhuk, untunge iku
celenge bolak-balik tibo kepleset, dhadhi aku sempet menek wit klopo”.
jare Bunali.
“Waduh cik sereme, lek aku sing ngalami wis pucet kepuyuh-puyuh gak
karuan” jare Brudin.
“Lho, aku iyo ngono, kon pikir celenge kepleset opo ?”
Drakula
Onok drakula loro jenenge Kentus ambek Kentir Arek loro iki wis sak
wengi gentayangan golek mbun-mbunan gak oleh-oleh.
Wis meh katene isuk Kentir mbalik atik lambene abhang kabeh bele-
potan getih.
Ndhelok ngono, Kentus malih purik, “Waduh awakmu kok isok oleh getih
akeh ?”.
“Awakmu kepingin tah ?. Ayo melok aku !!! ” jare Kentir.
Mari ngono arek loro iku miber bareng. Gak sui terus anjlok ndhik
wuwungane bangunan.
“Awakmu kethok cagak gendero ndhik ngisor iku ?” takok Kentir.
“Yo kethok rek !! Sing cedhake pos satpam iku se ,” jare kentus.
“Wah hebat awakmu . .” jare Kentir.
“Lho opoko masalae ? ” takok Kentus.
“Soale aku mau gak kethok . .” jare Kentir.
Asmuni
Bunali lagi kulak sandal nang pasar. Moro-moro onok arek marani Bunali.
“Lho sampeyan iki Asmuni Srimulat yo?” takok arek mau.
“Dhudhuk !. Ngawur ae.!!” jarene Bunali.
“Ojo mbujuki aku tah. Sampeyan mesti Asmuni!” jarene arek mau
ngeyel.
Bolak-balik Bunali negesno lek dheke dhudhuk Asmuni Srimulat, tapi
arek mau tetep ae ngotot gak percoyo. Ndhik endhi ae Bunali ditututi
ambek arek iku mau.
Mergo mangkel, akhire Bunali ngiyakno, cik arek iku ndang ngalih.
“Yo wis tak akoni aku pancene Asmuni Srimulat!. Kate lapo kon !!”
“Tapi kok gak mirip blas yo?” jare arek mau ambek nginclik.
ASI
Yuk Jah lungo nang dokter anak ambek nggendhong bayek. Gak sui Yuk
Jah diceluk mlebu, tibake doktere guanteng.
Mari merikso bayeke, doktere takok nang Yuk Jah, “Ning, arek iki
ngombe ASI opo susu botol ?”
“ASI pak dokter . . .” jare Yuk Jah.
“Wah lek ngono tulung aku prelu merikso susu sampeyan, “jare doktere.
Yuk Jah nurut, klambine dibukak. Mari ngono ambek doktere diperikso
alon-alon. Yuk Jah seneng ae, soale enak ambek doktere kan ganteng
pisan.
Wis mari merikso, doktere ngomong ngene, “Waduh Ning, yo pantes
bayek sampeyan kuru, wong sampeyan iku gak ndhuwe susu.”
Jare Yuk Jah, “Dhudhuk aku sing nyusoni pak dokter “.
“Lha sopo maneh lho ? .” doktere bingung.
“Aku iki ewange . .”
Mo Limo bag 2
Mari nilep dhuwik makelaran , akhire Bunali pindah omah nang luar
kota golek ketenangan. Dhuwike ditukokno omah ndhik walike gunung
kemukus. Ndesone pancen suepi gak onok wong blas.
Paling banter Bunali metu tuku kebutuhan sakwulan pisan, sisane yo
wis ndhik omah dhewekan gak onok sing ngeriwuki. Pokoke uripe tenang
dan damai gak onok sing ngganggu maneh. Sui-sui sakjane Bunali yo kroso
kesepian.
Kiro-kiro wis rong sasi, pas enak-enak nyruput kopi sore-sore moro-moro
onok wong sing dhodhok omahe Bunali.
“Kulo nuwun, kenalno jenengku Wonokairun, omahku kiro-kiro rong kilo
seko kene. Aku katene ngundang sampeyan mangan-mangan ndhik om-
ahku jam pitu bengi. “. jare tamune Bunali.
“Wah ketepakan, aku wis sui gak gumbul wong maneh. Yo wis aku tak
mrono. ” jare Bunali sueneng. Mari ngono Wonokairun pamit.
Pas katene metu lawang, Wonokairun mbalik maneh, “Aku meh lali,
engkok onok ngombe-ngombe bir pisan.”
“Wah gak masalah, aku wis biasa ngombe” jare Bunali.
Jik tas mlaku, Wonokairun mbalik maneh, “Aku meh lali maneh, engkok
onok sabu-sabu pisan, tapi ojok rame-rame lho yo”.
“Lho ketepakan iku, aku wis sui gak nyabu maneh,” jare Bunali maneh.
Wis tekan pekarangan, dhadhak Wonokairun mbalik maneh, “Sampeyan
seneng gendhakan pisan tah gak ?”
“Opo maneh gendhakan, aku wis rong wulan nganggur, yo mesti ae arep
rek. ” Bunali tambah giras mbayangno.
“Yo wis tak enteni ” jare Wonokairun.
“Lho Mbah, aku kudhu nganggo klambi opo, batikan tah sarungan thok
? ” takok Bunali.
Wedhi karo bojo
Mari pegatan muntiyadi terus rujukan maneh karo romlah. Masalahe
muntiyadi cinta pol karo romlah.
Kapanane ndek kesatuanne muntiyadi, tentara diperintah baris. Tapi
komandan njaluk barisanne dibagi loro.
Barisan sing pertama tentara sing wedi karo bojone. Barisan sing kedua
tentara sing gak wedi karo bojone.
Pas komandan ngecek barisan. Barisan sing pertama akeh pol… Barisan
sing kedua cuman siji yo muntiyadi
Komandanne takok nang muntiyadi: Opo’o peno kok gak wedi karo bojo.
“Lho aku iki ndek barisan kedua, dikongkon karo bojoku” Jare muntiyadi.
Nostalgia
Pas wayahe bulan purnama, Muntiyadi ngejak Romlah ngelencer nostalgia
numpak bronpit.
Mari ngono, arek loro iku tekan mburine pabrik paku.
“Dik, yok opo lek awake dhewe mbaleni lakon limang taun kepungkur
pas pacaran biyen ?” jare Muntiyadi.
“Iyo cak, setuju.” jare Romlah.
Mari ngono, Romlah dilungguhno ndhik pager wesi mburine pabrik paku
iku. Terus ambek Muntiyadi, Romlah dijak indehoi koyok jamane pas
pacaran biyen.
Moro-moro, Romlah lunjak-lunjak ambek awake horeg kabeh. Ndelok
bojone giras ngono, Muntiyadi tambah semuangat.
Wis oleh rong ronde, akhire arek loro iku nggeblak ceblok ndhik suket.
“Waduh dik, awakmu kok cik girase ” jare Muntiyadi.
“Iyo cak, limang taun kepungkur, pager wesine gak onok setrume. .”
Semongko
Bunali lagi pusing soale kebon semongkone ben bengi dijarahi wong, pada-
hal lagi wayahe panen. Wis diakali macem-macem sik pancet ae akeh sing
ilang.
Jarene wong sing nyolong iku Wonokairun, tapi Bunali gak wani nangkep.
Akhire Bunali nemokno cara cik malinge kapok.
Sore-sore sak durunge mulih, Bunali masang papan peringatan sing onok
tulisane ngene, “Awas !!! Ati-ati lek arep nyolong. Salah siji semongkoku
iki wis tak suntik racun”
Mari ngitung semongkone sing mateng, kabeh onok limolas, Bunali mulih.
Sisuke Bunali nyambangi kebone maneh, pas di ijir semongkone sik
pancet limolas.
“Wah tibake malinge gocik, tak bujuki ambek pengumuman ae wis wedhi
” pikire Bunali.
Mari ngono Bunali ndhelok papan pengumumane ambruk, wah paling
ketiup angin, pikire Bunali maneh. Pas diwalik, tibake papan pengumu-
mane ditambahi tulisan ambek malinge,
“Awas !!! saiki onok loro”.
Wedhus
Bunali pethuk Wonokairun lagi angon wedhus.
“Mbah, waduh wedhus sampeyan akeh yo ?” jare Bunali
“Yo lumayan ” jare si Mbah
“Pira kabehe, Mbah ?” takon Bunali maneh
“Sing putih opo sing ireng ?”
“Sing putih, wis”
“Selawe”‘
“Wik, cik akehe. Lha sing ireng?’”
“Podho…” jare Wonokairun ambek ngarit suket Bunali takon maneh.
“Mangan sukete yo akeh pisan, Mbah..”
“Yo..”
“Pirang kilo mangane sakdino ?”
“Sing putih opo sing ireng ?”
“Sing ireng, wis”
“Yo kiro-kiro limang kiloan”
“Lha sing putih?”
“Podho . . .”
Bunali bingung, laopo lek ditakoni kok kudu mbedakno sing putih tah
ireng, wong jawabane yo podho ae.
“Mbah, opoko lek tak takoni perkara wedusmu, sampeyan mesti leren
takon sing putih tah sing ireng barang. Padahal masiyo putih utawa ireng,
jawabanmu podho terus. Sakjane ngono onok opo?”
“Ngene lho, sing putih iku wehusku…”
“Lha sing ireng ?” “Podho . . .”
Bajak Laut
Muntiyadi pethuk ambek Gempil koncone sing dines ndhik angkatan darat.
Tibake Gempil iku saiki sikile sing kiwo yo dingklang pisan, ambek tangane
sing tengen tibake yo tughel digenti cathoke bakul beras. Sing luwih nemen
maneh, motone gempil kari sing kiwo. Moto sing tengen wis cumplung
ditutupi kain ireng malih koyok bajak laut.
“Lho Mun, sikilmu opoko ? ” takok Gempil.
Mari ngono Muntiyadi cerito pengalamane kijolan sikile wong wedhok.
“Lha awakmu opoko kok mreteli pisan ?” Muntiyadi genti takok nang
Gempil .
“Pas aku patroli nang Aceh, sikilku ngincak granat, langsung puthul.
Pas iku onoke sikile sapi, berhubung aku gak gelem, akhire yo ngene sikilku
dhadhi mek sithok”.
“Waduh cik apese nasipmu, lha tanganmu opoko kok digenti cathoke
beras ?” takok Muntiyadi maneh.
“Mari sikilku tughel iku mau, aku dirawat ndhik barak.
Moro-moro barakku dibom ambek mungsuh, kenek tanganku, langsung
tughel.
Pas iku onoke cathoke beras, timbangane gak onok blas, akhire aku
gelem. ” jarene Gempil maneh.
“Wah kayal thok kon iku, lha motomu opoko kok cumplung pisan ?
Kelilipen granat tah ?” takok Muntiyadi maneh.
“Oo iku seje ceritone. Enak-enak cangkruk nyeritakno pengalamanku
iku mau, moro-moro onok manuk nembeleki mripatku “. jare Gempil.
“Wah kon iku tambah ngawur thok ae, lha mosok ditembeleki manuk
isok motone cumplung”. Muntiyadi mulai gak percoyo.
“Lho iku dhudhuk mergo tembelek manuk” jare Gempil.
“Lho opoko ?” takok Muntiyadi. “Iku pas dino pertama aku nggawe
cathok beras”.
Numpak Taksi
Muntiyadi mari mulih jogo kiro-kiro jam rolas bengi. Embong wis suepi,
gak onok bemo sing lewat, ojek yo gak onok. Muntiyadi malih merinding
disko opo maneh ketepakan saiki malem Jum’at kliwon.
Mari ngenteni sui, akhire onok taksi liwat, waduh lumayan pikire. Mari
mlebu taksi lungguh ndhik mburi, Muntiyadi terus ngandani supir taksine
njaluk diterno mulih nang Wiyung.
Mergo kekeselen, gak sui Muntiyadi langsung keturon pules.
Pas enak-enak turu, Muntiyadi moro-moro keroso taksine kok tambah
alon. Bareng didelok dhadhak supir taksine wis gak onok, tibake montore
mlaku dhewe.
Muntiyadi tambah gemeter pas ndhelok tibake taksine lagi ngeliwati
kuburan.
Mergo gak kuat nahan wedhi, Mutiyadi bengok-bengok ambek kepuyuh-
puyuh “Tolong !!. . .tolong !!”.
Moro-moro seko jendelone taksi, onok endhase supir taksi njengongok.
Muntiyadi tambah pucet gak karuan, tibake supir taksine ngomong ngene.
“Hee cak . .ojok turu ae . .Ewangono nyurung, montore mogok iki lho.
.”
Mercon
Kentir pethuk ambek konco lawase sing jenenge Kentus. Pas ketemu arek
loro iku podho kagete mergo Kentir ambek Kentus podho-podho sirae
petal, raine gosong ambek untune yo podho bogange. Arek loro iku takok
takokan opoko kok isok podho bocele. Kentir cerito lek raine rusak, sirae
petal, ambek untune ngowos mergo melok nyemprot kobongan ambek mangap.
“Pas aku mangap dhadhak onok elpiji mbledhos” jare Kentir. Mari
ngono Kentir takok nang Kentus opoko kok sirae petal.
“Mari teraweh aku nyumet mercon ambek rokok. Mari tak sumet, mer-
cone tak sawatno wong dhodhol soto terus ndhelik ambek ngisep rokok.
Dhadhak wonge ngerti, aku diuber terus sirahku digepuki pikulane soto”
jare Kentus.
“Lha lek raimu opoko kok gosong” takok Kentir maneh.
“Mari sirahku waras, aku merconan maneh. Mari tak sumet ambek
rokok, mercone tak sawatno wong dhodhol bakso terus dhelik maneh am-
bek ngisep rokok. Dhadhak aku ketemon maneh, aku diuber mari ngono
diguyang dhudhuhe bakso” jare Kentus.
“Wok nemen kon iku, ngono yo gak kapok. Lha lek untumu opoko kok
guwung kabeh ?” takok Kentir maneh.
“Oo lek iki seje ceritone. Pas katene nyumet mercon dhadhak onok arek
pacaran liwat”
“Kapok kon, mulakno tah ojok seneng nginceng. Paling kon digibheng
ambek sing lanang ” jare Kentir kemeruh.
“Gak ngono ceritone . .” jare Kentus.
“Opoko lho . .?” takok Kentir.
“Aku lali . . . Rokokku sing tak sawatno. . .”
Kepiting
Romlah njaluk ditukokno kepiting gawe buko.
“Yo wis tak tukokno nang rolak” jare Muntiyadi.
“Lho gak numpak bronpit tah ?” takok Romlah.
“Gak wis, cik gak amis. Tak nyegat bemo ae” jare Muntiyadi.
Mari ngono Muntiyadi budhal nyegat bemo. Dhadhak ndhik bemo
Muntiyadi pethuk ambek bekas pacare biyen, jenenge Sablah.
“Lho cak Mun, kate nang endhi peno cak ?”takok Sablah. “Kate nglencer
golek angin . .” jare Muntiyadi.
“Sakjane aku kate kulak kain, tapi wurung ae wis, tak melok peno ae”
jare Sablah ngalem.
Mari ngono arek loro iku ngelencer nang musium Kapal Selam. Ndhik
kono lak isis tah, dhadhi gak keroso moro-moro wis sore.
“Waduh blaen iki, aku kudhu mulih, wis yo .” jare Muntiyadi.
Mari pamitan, Muntiyadi mampir nang rolak tuku kepiting diadhai kre-
sek. Mergo gopoh kabeh, pas katene mlebu pekarangan dhadhak kreseke je-
bol, kepitinge buyar kabeh. Ambek nggurak kepitinge, Muntiyadi bengok-
bengok
“Ayo cepetan sithik . .wis meh tekan iki ” Krungu bojone bengok-
bengok, Romlah ambek muring-muring.
“Cak . .cak, cik guobloke se sampeyan iku. Lha mosok kepiting digiring
padhakno bebek ae. Mulakno kok sui. . .”
Wanita Besi
Sutaji gupuh kabeh marani kantor pulisi katene lapuran.
“Waduh Pak Pulisi, aku sik tas ae dinunuti Margaret Tatcher ” jare
Sutaji.
“Sampeyan ojok macem-macem lek lapuran .” jare pulisine gak percoyo.
“Saestu Pak, asli aku gak mbujuk “. jare Sutaji.
“Lek ngono lapuran sing lengkap alon-alon. Sampeyan pethuk Margaret
iku nang ndhi ?” takok pulisine.
“Ngene lho ceritone Pak. Pas aku ngirim barang arep mlebu tol Waru,
moro-moro onok bule tuwek awe-awe njaluk nunut. Bareng wis munggah,
aku kuaget tibake wong bule iku Margaret Tatcher. ” jare Sutaji.
“Lho kok sampeyan yakin lek iku asli Margaret Tatcher ?”takok Polisine.
“Aku yakine iku pas ngisi solar, dhe’e iku titip njaluk tukokno Mesran
Super, jarene ngelak. Lha sisane iku ditetesno mripate, jarene mripate
perih” jare Sutaji.
“Opoko ceritone kok dhe’e sampek isok nunut awakmu ?” takok pulisine
maneh.
“Ceritone iku, dhe’e lagi melancong nang Suroboyo, lha pas sampek
Demak dhadhak moro-moro dhe’e diuber-uber wong akeh, onok tukang
rombeng, onok juragan besitua. Kabeh iku nggowok timbangan dhewe-
dhewe kepingin ngiloni dhe’e.
Mergo wedhi, akhire dhe’e mlayu mbalik nang hotel. Pas arep tekan
hotel, dhadhak dhe’e pethuk ambek wong Timbang Badan. Begitu ndhelok
timbangan, Margaret tambah pucet kewedhen, terus mlayu maneh sampek
akhire pethukan ambek aku njaluk nunut.
Pas tak takoni arep nang endhi, jarene sembarang pokoke sing aman.
Akhire yo tak jak ngirim barang. Lha saiki iku aku arep lapuran ndhik
sampeyan lek Margaret iku ngilang maneh.
“Aku wedhi lek disalahno.” jare Sutaji.
“Lho kapan dhe’e ngilang maneh ? ” takok pulisine.
“Pas praotoku tak enggokno jembatan timbang “
Ketinggalan Sepur
Mari nglaporno margaret thatcher sutaji oleh tugas maneh seko kaji Im-
ron. Sutaji dikongkon ngeterno duwek rong juta gawe mbayar utange kaji
Imron.
“Pak …..duwek rong juta iki dikekno sopo” ? Takok sutaji.
“nggone Pak Bunali ndek Semarang” jare Pak kaji
“sopo sing ngeterno aku nang terminal sepur” jare sutaji maneh
“Ojo kuatir ….. gempil karo sujak ngancani awakmu sampek stasion
sepur” jare Pak Kaji.
Menene wong telu budal numpak sepur jurusan semarang.
“Sepure sek suwe rek …..ayok ngopi karo rokokan desek rek” jare Sutaji.
Akhire wong telu mau ngobrol karo guyon cekikikan ndek warung kopi.
Saking asyike guyon wong telu mau gak ngerti lek sepure kate budal.
Pas suorone sepur muni banter teett…tetttt … arek telu mau kuaget.
Mari mbayar kopi arek telu terus mblayu nututi sepur. Gempil karo
sujak mblayune luwih cepet dadi sik isok mencolot mlebu nang sepur.
Sutaji ketinggalan ndek mburi … akhire gak nutut .. wis .. ketinggalan.
Gak suwe sutaji terus ngguyu kuekel ….. ha ..ha ..ha … Wong sing ndelok
..sutaji … ono sing sakno .. ono sing bingung … ono sing ngiro arek
gendeng. Satpame ndelok sutaji koyok ngono gak mentolo .. dipikir saking
sedihe terus dilampiasno ngguyu
“hei .. kon iku ketinggalan sepur kok malah ngguyu kekel opo’ o?” jare
satpame Sing kate lungo iku sakjane aku ….
Sing numpak sepur kok malah sing ngeterno aku …
SPG
Sore-sore onok cewek SPG teko nawakno panci nang omahe Wonokairun. “Kulo nuwun. ” jare cewek iku ambek nyepot sandal.
“Oo monggo, monggo pinarak. “jare Wonokairun.
“Nuwun sewu pak, ibu wonten Pak ?” takok ceweke.
“Waduh bojoku gak ndhik omah ndhuk ” jare Wonokairun.
“Yen ngoten, kulo ngerantos mawon ” jare ceweke maneh.
“Lho monggo. Anggepen koyok omah dhewe ndhuk ” jare Wonokairun
ambek ngejak cewek iku mau mlebu ruang tamu. Mari ngono tamune
ditinggal ngetren dhoro.
Pas Wonokairun mulih, tibake cewek iku sing lungguh nang ruang tamu.
Ketokane cewek iku wis kuesel ngenteni kudhu ngamuk ae.
“Ibu teng pundhi to Pak ?” takok cewek SPG iku.
“Bojoku lungo nang kuburan ndhuk” jare Wonokairun.
“Jam pinten mangke kondure ?” takok cewek iku maneh.
“Waduh gak weruh aku ndhuk. Wis onok limolas taun durung tau mulih
Njegur
Onok juragan tambak jenenge Sablah ngadakno sayembara.
“Sopo ae sing wani njegur nang tambakku, bakal oleh hadiah Sepeda
Montor.” jare Sablah.
Akeh wong sing ngumpul ndhelok sayembarane, tapi gak onok sing wani
njegur nang tambak. Masalae tambake isine dhudhuk iwak tapi boyo,
nyambik, bajul lan sak panunggalane.
Mergo gak onok sing wani njegur, hadiae digenti dhadhi montor kijang
anyar. Tapi tetep ae gak onok sing wani njegur mergo merinding ndhelok
boyone guedhe-guedhe mangap kabeh.
Akhire ambek Sabalah hadiae ditambah maneh, montor kijang anyar
ambek omah sak isine. Tapi tetep ae gak onok sing wani njegur. Mari sepi
meneng kuabeh, moro-moro Muntiyadi njegur nang tambak.
Penontone keplok-keplok kabeh ndhelok Muntiyadi gelut ambek boyo.
Kiro-kiro wis sak jam, akhire Muntiyadi tampil sebagai pemenang. Cumak
yo ngono, awake dhedhel kuabeh. Wis mari ambekan, Sablah marani arep
nyerahno hadiae, tapi Muntiyadi nolak.
“Yo wis tak tambahi dhuwik limangatus juta”jare Sablah, tapi Muntiyadi
tetep nolak.
“Tak tambahi mas-masan sak kilo” jare Sablah maneh, Muntiyadi tetep
gak gelem.
“Wis ngene ae, awakmu njaluk opo ae, tak turuti”jare Sablah gak gelem
kalah.
“Aku njaluk arek sing njungkrakno aku mau digowo rene”jare Muntiyadi.
Numpak Taksi 2
Mari jogo bengi Muntiyadi mulih numpak taksi.
Timbangane sepi, Muntiyadi njawil supir taksine kate ngejak ngobrol.
Pas dijawil dhadhak supir taksine kuaget setengah mati. Saking kuagete,
sikile langsung mancal gas, montore langsung mencelat katene nyosop
warung.
Untunge, supire sik sempet ngincak rem, gak sidho nubruk. Muntiyadi
ambek supire podho pucete gak isok ambekan.
Pas wis tenang, Muntiyadi njaluk sepuro ambek takon nang supire opoko
dijawil ae kok kuaget.
Jare supire “Ngene lho cak, aku sik tas pertama kali iki nyupir taksi, lha
sampeyan iku yo penumpangku sing pertama pisan.”
Muntiyadi bingung “Lho mbiyen sampeyan kerjone opo, kok isok sampek
kagetan koyok ngene ?”
“Aku mbiyen yo nyupir pisan” jare supir taksine.
“Supir praoto tah ?” takok Muntiyadi. “Supir montor jenasah . .”
Sepuluh Ewu
Wonokariun ngejak gendakane, jenenge Mbok Cempluk, perikso nang dok-
ter Bunali.
“Opoko sampeyan iku mbah, wong awake ketok tahes kok athik perikso.”
takok dokter Bunali.
“Ngene lho dok, umurku iki wis 80 lha bojoku iki wis kewut pisan umure
75. Aku pingin takok opo sik oleh tah aku ambek bojoku iki main koyok
manten anyar ?” takok Wonokairun ambek isin-isin.
“Lho lek sampeyan gak onok penyakit yo aman-aman ae. ” jare doktere.
“Wah tepak lek ngono, cumak cik tambah mantep, tulung aku ambek
bojoku diperikso. Lha terus mumpung ndhik kene, aku tak main ambek
bojoku nang kamar praktek sampeyan. Tulung dipantau mbok menowo
onok opo-opo.” Jare Wonokairun.
Batine Bunali, sak umur-umur lagek iki ono pasien njaluk sing aneh
koyok ngene. Tapi wong jenenge dokter akhire panjaluke Wonokairun di-
turuti, mari jantunge diperikso, wong loro iku main tutupan layar. Lha
Bunali ngenteni jogo-jogo lek misale wong loro iku gak kuat terus jantun-
gen. Mari oleh rong ronde, Wonokairun ambek Mbok Cempluk metu ngguya-
ngguyu. “Yok opo dok, aman ae tah?” takok Wonokairun.
Ambek Bunali jantunge wong loro iku diperikso maneh, tibake pancene
sik kuat.
“Wis mbah, sampeyan sehat wal afiat. Ojok khawatir.” “Suwun dok.
Piro ongkose ?” takok Wonokairun.
“Sepuluh ewu ae, wong sampeyan iku asline sehat.” Jare Bunali.
Mari ngono arek loro iku pamitan mulih. Seminggu maneh, wong loro
iku teko maneh nang dokter Bunali. Persis koyok seminggu kepungkur,
njaluk diperikso jantunge, mari ngono njaluk dipantau pas main.
Bunali yo nuruti ae wong pancen tugase sebagai dokter. Mari oleh rong
ronde, Wonokairun ambek Mbok Cempluk metu ngguya-ngguyu.
“Yok opo dok, aman ae tah?” takok Wonokairun.
Ambek Bunali jantunge wong loro iku diperikso maneh, tibake pancene
sik kuat.
“Lak wis tak kandani, sampeyan sehat wal afiat. Ojok khawatir.”
“Suwun dok. Piro ongkose ?” takok Wonokairun.
“Sepuluh ewu ae, wong sampeyan iku asline sehat.” Jare Bunali.
Mari ngono arek loro iku pamitan mulih. Seminggu maneh, wong loro
iku teko maneh nang dokter Bunali.
Persis koyok seminggu kepungkur, njaluk diperikso jantunge, mari ngono
njaluk dipantau pas main. Bunali wis mulai ngersulo, tapi yo sik dituruti.
Mari oleh rong ronde, Wonokairun ambek Mbok Cempluk metu ngguya-
ngguyu.
“Yok opo dok, aman ae tah?” takok Wonokairun. Ambek Bunali jan-
tunge wong loro iku diperikso maneh, tibake pancene sik kuat.
“Koyok minggu wingi, sampeyan sehat wal afiat. Ojok khawatir.”
“Suwun dok. Piro ongkose ?” takok Wonokairun.
“Sik tah mbah, aku katene takok. Sampeyan lak wis tak kandani lek
sampeyan iku sehat, laopo bolak-balik teko rene ngongkon aku mentelengi
sampeyan main.
Masio elek, aku iki dokter rek !!, dhudhuk wasit smack down.”
Bunali mulai purik. “Ngene lho dok, aku iki wis muteri sak Suroboyo,
Mbenjeng, Balungbendo, Ndhiwek sampek Peterongan. Gak onok sewa
kamar sing ngisore sepuluh ewu .”
Pelabuhan
Muntiyadi oleh tugas jogo nang pelabuhan Tanjung Perak mulai isuk sam-
pek sore.
Isuk-isuk kiro-kiro jam enem, Muntiyadi pethuk ambek Togog numpak
sepeda gunung metu seko pelabuhan.
Muntiyadi curiga soale, sepedane Togog digandoli glangsing guedhe loro
kiwo tengen. Isine pasti sabu-sabu, utowo putaw pikire Muntiyadi.
Mergo curiga, Togog dicegat terus digeledah kuabeh mulai klambi, kathok
sampek kampes. Mari ngono isi glangsinge yo disuntek pisan, tibake isine
mek pasir thok. Gak onok nakobar blas.
“Kon laopo sepedaan nang kene ?” takok Muntiyadi.
“Ngene lho pak, aku iki seneng olahraga nang pinggit laut, angine enak.”
jare Togog.
“Lho laopo sepedamu apik-apik athik kon gandholi pasir ?”takok Muntiyadi.
“Sepedaku iki enteng pak, cik rodhok abhot sithik yo tak gandholi pasir
iki.” jare Togog maneh.
Pikire Muntiyadi yo masuk akal penjelasane Togog iki. Mari KTPne
diperikso, akhire Togog diculno. Sisuke, Muntiyadi pethuk Togog sepedaan
maneh. Mergo sik curiga, Togog diperikso maneh koyok wingi.
Akhire pancen gak onok opo-opo, isine glangsing cumak pasir thok, To-
gog terus diculno maneh. Kiro-kiro wis seminggu, Muntiyadi mulai bosen
merikso Togog. Dhadhi lek pethuk ben isuk mek manthuk thok, laopo
diperikso maneh wong mek pasir.
Selama telung taun akhire ben isuk Muntiyadi pethuk ambek Togog
numpak sepedaan. Arek loro iku malih dhadhi konco apik, kadang-kadang
Togog ditraktir ngopi lek isuk.
Mari ngono Muntiyadi dipindah tugase mbalik nang markas besar, gak
tau pethuk ambek Togog maneh. Suatu hari, pas Muntiyadi mangan nang
restoran, dhadhak pethuk Togog maneh. Tibake Togog iku sugih, montore
sedan anyar.
Bareng kethok onok Muntiyadi, genti Togog sing nraktir. Ambek man-
gan, arek loro iku ngobrol.
“Gog, terus terang ae sakjane aku iki sik curiga ambek awakmu. Aku
yakin sakjane awakmu iki penyelundup, gak mungkin awakmu isok sugih
koyok ngene. Saking ae aku gak isok nemokno barang bukti. Lha saiki
aku wis gak jogo nang kono, wis tah awakmu ngaku ae ojok khawatir,
selama telung taun wingi sakjane awakmu iku nyelundupno opo?.” takok
Muntiyadi penasaran.
“Sepeda . . .”
Sayang anak
Muntiyadi oleh tugas penyerbuan nang sarange GAM.
Repote, anake Muntiyadi sing jenenge Tole umure sik sepuluh taun gak
gelem ditinggal njaluk melok. Mergo sayang anak, akhire Tole dijak pisan,
mari mulih sekolah langsung melok numpak pesawat.
Nang pesawat wis onok koncone Muntiyadi jenenge Togog ambek Gem-
pil. Pas nang awang-awang, dhadhak mesin pesawate mbrebhet terus mati.
Wong papat iku mau mulai pucet kepoyoh-poyoh royokan parasut. Lha
masalae parasute iku mek telu, padahal wonge onok papat termasuk Tole
anake Muntiyadi.
Mergo wedhi kedisikan, Togog langsung nyaut parasut terus terjun metu
pesawat. Mari ngono Gempil gak gelem kalah, melok nyaut parasut terus
terjun pisan. Muntiyadi terus rundingan ambek anake, sopo sing kudhu
ngalah soale parasute kari sithok.
“Le anakku, parasut iki gawe awakmu ae, masa depanmu sik dhowo.
Bapak mek titip salam gawe mbokmu yo Le.”
“Pak, sampeyan wis gak usah mbrebes mili, ngisin-ngisini markas besar
ae. Iki lho parasute sik onok loro. ” jare Tole.
“Lho kok isok ngono, lak mau wis disaut Togog ambek Gempil ?”Muntiyadi
heran.
“Sing disaut Om Togog iku mau tas sekolahku . . .”
Lali
Sore-sore Wonokairun nangis gerung-gerung ndhik pinggir embong ambek
napuki sirahe. Gak sui Bunali liwat, begitu ndhelok onok wong tuwek
nangis langsung mandhek nakoni.
“Mbah, laopo sampeyan nangis ndhik pinggir embong ?” takok Bunali.
“Aku ndhuwe bojo anyar ndhik omah, sik tas ae tak rabi, umure 20 taun,
sik enom, ayu, semlohe. ” jare Wonokairun ambek nangis.
“Lho lak enak se sampeyan, laopo kok nangis lho ?. ” Bunali mulai
bingung.
“Ngene lho cak, wis ayu, bojoku iku yo pinter masak. Opo ae kari njaluk,
jangan asem, rawon, brengkes, sembarang sing enak-enak pokoke. ” jare
Wonokairun.
“Lha kurang opo maneh sampeyan Mbah. Ngono kok sik mewek ae. “
Bunali tambah bingung.
“Mari ngono yo, bojoku iku setia pol ambek aku. Lek onok sing nggudho
langsung dikandhakno aku. ” jare Wonokairun maneh.
“Lek ngono ceritane, lha terus opoko sampeyan kok nangis gerung-
gerung gak mari-mari ?” Bunali wis gak sabar meneh.
“Aku lali ndhik endhi omahku . . . .”
Ndlahom
Muntiyadi bingung nggoleki bojone. Mari munyer-munyer sepedaan, akhire
ketemu. Muntiyadi kuaget, tibake Romlah lagi ndhodhok ndhik tengah la-
pangan, waduh sempel wong iki pikire. Seko pinggir embong Muntiyadi
mbengoki bojone.
“Ooooiii !!! Laopo kon ndhik kono dik” jare Muntiyadi ambek bengok-
bengok.
“Lho sampeyan gak kethok tah, aku lagi numpak perahu nang tengah
segoro” jare Romlah.
“Waduh dik, mulakno wong ngarani awakmu ndlahom, wong kelakuanmu
pancene koyok ngono. Ayok ndhang mulih, ojok ngisin-ngisini aku” jare
Muntiyadi emosi.
“Gak gelem aku cak, wong aku lagi enak-enak golek iwak “jare Romlah.
“Mulih tah gak !!!” jare Muntiyadi muntap.
“Gak gelem!! ” jare Romlah.
“Tak gibheng lho yo !!!” jare Muntiyadi.
“Rinio lho lek wani !!” jare Romlah.
“Oo… saking ae aku gak isok renang”
Read More

MY BANNER

 
copy right © MU'ALIM TIM SAR